BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Ketua Pusat Studi Amerika Universitas Indonesia
Proteksionisme Akibat Kebangkitan Politik Kanan AS

Beda pengertian perang dagang dengan proteksionisme. Perang dagang adalah situasi di mana negara-negara berupaya menghancurkan perdagangan masing-masing, dengan menerapkan tarif atau hambatan perdagangan lainnya misalnya untuk menuju ke autarki.

Proteksionisme bukan sebuah gagasan baru di Amerika Serikat. Di negara-negara lain juga demikian dengan menggunakan non-tariff barriers seperti inspeksi mutu, atau menggunakan bahasa lokal untuk aturan-aturan perdagangannya, atau menggunakan cara-cara yang melelahkan untuk menembus pasarnya.

Terpilihnya Trump dan intervensi Rusia membangkitkan kalangan politik kanan AS yang menderita akibat terlalu banyak orang kaya Amerika tidak berpikir untuk membangkitkan industrinya. Situasi itu telah membangkitkan kembali narasi proteksionisme di AS.

Untuk menarik pemilih di Pennsylvania, misalnya, Trump perlu menggaris bawahi soal tarif terhadap besi baja. Karena terjadi sunset industries atau industri-industri yang sudah tertinggal jauh dari saingannya dan mengakibatkan perekonomian buruh memburuk. Pennsylvania sedang menghadapi primary general elections untuk mempersiapkan pemilihan pada November mendatang.

Indonesia tidak perlu bersikap apapun kecuali memperbaiki perilaku kita terhadap perlindungan hak-hak warga negara termasuk kaum yang terisolasi seperti orang rimba dan sebagainya, monopoli perekonomian, menjaga kualitas komoditas yang diperdagangkan di tataran internasional, perusakan lingkungan hidup, dan perlindungan satwa liar. Semua hal ini menjadi pemicu bangsa lain untuk secara buruk menindak komoditas yang kita ekspor. Dengan bermacam alasan kini produksi CPO kita terhalang di Uni Eropa dan AS.

Ternyata pemerintahan Donald Trump akan memberlakukan tarif dalam 15-30 hari ke depan. Presiden Trump menghadapi kritik dari 107 anggota partai republik di Kongres dan menganjurkan agar kebijakan lebih difokuskan pada kecurangan mitra dagang seperti China.

Wilbur Ross, Menteri Perdagangan AS menyatakan ada pengecualian yang berlaku untuk negara-negara yang mendukung keamanan nasional AS.  Definisinya lebih menjurus pada efek terhadap lapangan pekerjaan dan industri-industri tertentu.

Dengan mundurnya Gary Cohn yang menentang diberlakukannya tarif perdagangan besi baja, maka semakin besar pengaruh para penasehat ekonomi Peter Navarro dan Robert Lightizer (USTR) yang selama ini mendorong mitra dagang untuk sepakat dengan tuntutan AS.

Kelompok penasihat ini memiliki pandangan tentang perdagangan yang biner, melihatnya sebagai zero-sum game atau permainan menang-kalah secara absolut. Penasihat-penasihat ini yang telah mendorong AS untuk mundur dari perjanjian perdagangan NAFTA dan memberlakukan tarif yang kaku terhadap impor aluminium dan besi baja. Mereka mempertimbangkan defisit perdagangan yang mencapai taraf tertinggi selama sembilan tahun ini.

Meningkatnya peran kaum populis di AS memang sudah cukup mengkhawatirkan Wall Street dan pejabat-pejabat negara mitra AS karena dianggap dapat memicu sebuah perang dagang di tingkat global atau mengambil langkah berperang terhadap mitra-mitra dagang dan kelompok-kelompok  internasional di WTO. Kebanyakan pejabat di negara-negara mitra dagang AS menganggap Gary Cohn seorang sekutu yang bisa diandalkan soal isu ekonomi global dan sebagai seseorang yang bisa mengekspresikan pandangan kepada Presiden Trump.

China sudah memberi peringatan soal respons mereka yang pas dan dibutuhkan apabila AS benar-benar menerapkan tarif.

Leo Gerard, presiden serikat buruh besi baja, berharap bahwa pemerintah AS hanya akan menarget negara-negara yang memang benar-benar melanggar. Namun pejabat-pejabat pemerintahan Trump menolak untuk sekedar menarget dan menginginkan sebuah penerapan tarif yang kaku terhadap semua impor aluminium dan besi baja.

Banyak yang berpendapat bahwa dengan keterkaitan kebijakan tarif ini dengan NAFTA yakni 10 persen untuk aluminium dan 25 persen untuk besi baja, maka AS akan menghadapi tuntutan hukum di WTO. Thomas Donahue, pPresiden Kadin AS, menyatakan bahwa kelompoknya sangat mengkhawatirkan soal prospek terjadinya perang dagang.

Bagi Indonesia, cukup dengan menerapkan non tarief barrier untuk mengendurkan tekanan masuknya impor baja. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF