BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Guru Besar Ilmu Pendidikan Anak Berbakat Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta
Pro Kontra Academic Leader Import

Memang sedang hangat dan ramai diperbincangkan terkait Rektor Import ya, baik di kalangan rektor sendiri maupun masyarakat luas. Ada yang komentar singkat, cukup panjang dan panjang sekali. Ada yang bernuansa setuju sekali, antara yang pro dan kontra, dan ada yang kontra sekali. Semua memberikan justifikasi yang bisa diterima dengan baik.

Jika latar belakang utamanya itu, persoalan ranking universitas, yang terutama berdasarkan QS WUR, maka yang perlu kita ketahui, apakah semua perguruan yang hebat-hebat di Luar Negeri sudah tersertakan? Jika ya sudah, genjotan yang sedang dilakukan untuk masuk 100 besar itu sesuatu yang hebat.

Tetapi jika belum, tentu kita seperti mengejar angin. Dugaan saya sih belum. Karena QS WUR dasarnya aktif mendaftar. Jika tidak mau daftar, ya sehebat apapun tidak masuk ranking. Namun jika yang hebat-hebat di seluruh dunia ikut daftar, bisa-bisa posisi perguruan tinggi Indonesia berada di ranking lebih rendah dari ranking saat ini.

Tanpa mengurangi perankingan, maka sebaiknya mencari perangkingan yang lebih fungsional berdasarkan bidang keilmuan. Apakah perankingan bidang medical sciences, engineering, economics, law, humanities, agriculture, arts, psychology, education, dan sebagainya. Yang baru kita dengar, di antaranya bidang agriculture dan arts, semoga segera bisa disusul yang lainnya. Justru ranking berdasarkan bidang keilmuan lebih fungsional dan bermanfaat untuk banyak bidang keilmuan lainnya.

Hal lain yang harus dipertimbangkan, memang rektor bukan satu-satunya faktor yang sangat penting. Faktor kualifikasi dan kompetensi dosen, sarana prasarana yang mutakhir, dukungan dana untuk operasional tridharma perguruan tinggi serta jumlah mahasiswa asing, student and lecture exchanges, joint research and publication dengan perguruan tinggi asing sangatlah menentukan. Jika semua variabel itu tidak digarap secara simultan dengan menghadirkan rektor impor, maka diduga akan terjadi pemborosan, kehadiran rektor tidak banyak manfaat.

Belum lagi soal fairness dengan sistem insentifnya. Jika tidak dihitung matang sistem insentif di kampus secara berkeadilan, maka sangat pontensial akan timbulkan masasah.

Ditambah lagi faktor lain, misalnya bagaimana mekanisme pemilihan rektor. Rektor adalah academic leader, karena itulah proses rekrutmen perlu mempertimbangan track record di bidang academic leadership dan profesionalisme.

Demikian juga persoalan moral. Apakah bisa dijamin calon rektor Import memiliki ideologi yang tidak bertentangan dengan ideologi civitas akademika khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Ingat, bahwa setiap keputusan yang dibuat oleh pimpinan sedikit banyak dipengaruhi oleh ideologi dan filosofi hidup rektor. Semoga mereka bisa menyesuaikan. Namun prakteknya tidaklah mudah. (yed)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF