BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia
Prioritaskan Revitalisasi Industri

Tantangan ekonomi presiden terpilih periode 2019-2024 adalah menyelesaikan beberapa rapor merah yang belum dapat diatasi yakni defisit transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan, dan pertumbuhan ekonomi yang masih di kisaran 5 persen. Kita membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat. Pelaku usaha juga berharap iklim usaha lebih bagus dan pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Hal-hal ini harus menjadi fokus utama dalam 5 tahun ke depan.

Hal urgen yang perlu dilakukan pemerintah adalah menetapkan agenda utama dalam 100 hari pertama pemerintahan dan 5 tahun ke depan. Yang perlu diprioritaskan pemerintah adalah melakukan revitalisasi manufaktur. Masalah defisit  pada neraca perdagangan dan transaksi berjalan, melemahnya investasi dan pertumbuhan bermuara pada lemahnya daya saing sektor manufaktur.

Prioritas revitalisasi sektor manufaktur tidak harus menggeser program pembangunan yang saat ini sudah berjalan seperti  proyek infrastruktur yang bukan sektor unggulan, tetapi ia menunjang sektor unggulan.

Proyek infrastruktur bisa terus berjalan untuk mengejar ketertinggalan yang sudah terlalu jauh. Hanya pemerintah perlu fokus, tidak hanya membangun fisik tetapi perlu ada arah. Jika prioritas pada revitalisasi manufaktur maka infrastruktur yang dibangun harus sejalan dengan target-target perbaikan di industri manufaktur. Bukan membangun infrastruktur apa saja tetapi yang harus menunjang daya saing sektor manufaktur. Yang perlu diprioritaskan adalah pembangunan infrastruktur di kawasan industri, pelabuhan, industri perkapalan yang menunjang ekspor-impor.

Pemerintah harus memperjelas kebijakan revitalisasi sektor manufaktur untuk menunjukkan komitmen sebagai satu prioritas. Dengan begitu swasta akan mengikuti arah pemerintah. Selama ini juga seperti itu, pada saat pemerintah terlihat serius membangun infrastruktur dan pariwisata, investasi  yang terkait dengan infrastuktur, konstruksi, dan jasa ikut naik. Karena ada kejelasan arah dari pemerintah, swasta ikut tertarik membangun.

Selain itu, pemerintah juga perlu menyiapkan peta jalan revitalisasi manufaktur. Tidak semua manufaktur direvitalisasi, tetapi difokuskan pada bidang yang menjadi keunggulan Indonesia, yang  mempunyai   daya ungkit paling kuat terhadap pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah juga perlu menyiapkan insentif untuk mendukung revitalisasi manufaktur, seperti insentif fiskal dan non fiskal setelah jelas agenda dan peta jalannya.

Permasalah di sektor manufaktur sudah ada sebelum adanya perang dagang AS-China. Keterkaitan industri kecil-besar, hulu-hilir sangat lemah, sehingga setiap ada upaya mendorong ekspor produk manufaktur, diikuti oleh kenaikan impor yang besar juga. Begitu juga saat membangun infrastruktur, diikuti oleh impor kebutuhan proyek infrastruktur yang besar juga.

Adanya perang dagang AS-China semakin menghambat pasar ekspor manufaktur dan investasi Indonesia. Tetapi tidak semua negara mengalami pelemahan ekspor.  Banyak negara yang mencatat surplus pada neraca perdagangannya dan manufakturnya tumbuh. Faktor eksternal memang mempengaruhi tetapi tidak lantas upaya untuk melakukan revitalisasi industri tidak memiliki peluang.

Pasar dalam negeri  Indonesia besar  untuk bisa menjadi modal dalam menyerap produk yang diproduksi di dalam negeri. Dengan memanfaatkan pasar dalam negeri saja secara maksimal akan bisa mendorong sektor manufaktur.

Dalam sejarah, negara yang sukses membangun industri manufaktur adalah dengan membangun pasar dalam negeri dulu sebagai penopang utama dan pembeli dari produkyang dihasilkan.  (sar)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Karyono Wibowo

Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

FOLLOW US

Kapan Merdeka dari KUHP Peninggalan Belanda?             Bangsa Parasit             Tinjau Kembali Politik Pangan             Semantik Munafik Lunatik Kembali Otentik              Indonesia Kehilangan Arah dan Tujuan             74 Tahun RI: Kedaulatan Sebagai Slogan Politik              Perlu Mekanisme Seleksi Khusus             Ketahanan Pangan Indonesia Masih Rapuh             Persoalan Ada Pada Tingkat Konsumsi             Kedaulatan Pangan Didukung Pola Makan dan Perilaku Konsumsi Pangan