BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dosen dan Peneliti Pada Master Ekonomi Terapan (MET) Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Katolik Atmajaya Indonesia
Prioritas Membangun Keunggulan Kompetitif

Berbicara bonus demografi Indonesia, sampai dengan 2030 terdapat generasi muda tidak produktif (66 persen) lebih banyak dari generasi produktif (34 persen). Sebuah momentum yang tepat untuk membangun kembali moral "Keindonesiaan” dan fokus membangun kompetensi anak bangsa di semua sektor, terutama sektor-sektor prioritas dan unggulan untuk menjawab tantangan Global dan menjaga produktivitas nasional.

Membangun kompetensi SDM merupakan hal urgent selain modal, teknologi dan sumber daya alam. Hambatannya menurut World Bank adalah pengaruh dari dalam negeri, terutama ego sektoral antar Kementerian. Hal yang juga terjadi di banyak negara berkembang.

Sebagai contoh, Pasca perang Dunia II Jepang dan Jerman sebagai negara kalah perang dengan ekonomi yang berantakan, dengan cepat mampu membangun SDM handal guna memulihkan dunia industrinya. Kedua negara berhasil bangkit dan memulihkan kembali perekonomian sebelum era 70-an.

Salah satu solusi adalah membangun human capital  dengan kompetensi SDM sesuai kebutuhan, dibarengi sikap nasionalisme yang tinggi. Dari pengalaman Jepang dan Jerman,  kunci survive dan keberhasilan adalah moral nasionalisme  dan pemahaman akan pentingnya membangun kompetensi SDM.

Bagaimana Indonesia? Secara empirik membuktikan keunggulan komparatif saat ini akan tergusur oleh keunggulan kompetitif yang lebih unggul berdasarkan pada pengetahuan, investasi, wawasan, dan inovasi dan sangat dipengaruhi perubahan budaya.

Sebaliknya negara yang hanya mengandalkan besarnya jumlah penduduk tetapi tidak kompetitif, nasibnya seperti Indonesia dewasa ini: melakukan ekspor tenaga kerja, umumnya unskill Labour seperti TKI/TKW baik legal atau tidak.

Seharusnya pasar kerja dimanapun akan mampu diisi oleh anak bangsa yang kompeten. Keunggulan kompetitif digerakkan oleh budaya produktif. Tetapi umumnya negara berkembang seperti Indonesia, lemah dari sudut ini. Dengan kata lain, budaya tidak produktif itu tetap bertahan dalam masyarakat kita. Mengapa?

Jawabnya: pertama, apa yang diperlukan untuk menjadi makmur berkaitan dengan bagaimana bersikap. Sikap itu dipengaruhi oleh cara kita memberi makna terhadap arti hidup, dan arti kerja. Jika orientasi nilai tentang sekadar mencari sesuap nasi atau pengejaran status sosial, maka keduanya tidak akan mengubah keadaan. Yang satu cepat puas, yang satunya lagi bekerja dan mengerjakan pekerjaan berdasarkan status quo dan regulasi semata.

Kedua, adanya mentalitas umum masyarakat kita yang kurang responsif terhadap perubahan atau pembangunan. Masih banyak masyarakat kita yang melihat perubahan sebagai kesulitan, ketimbang sebagai tantangan atau peluang yang memungkinkan dicapai.

Pandangan ini berlawanan dengan motto kaum pemenang. Kaum pemenang melihat setiap kesulitan adalah peluang perubahan dan  jalan keluar. Dari hasil renungan itu kita punya dua masalah besar pertama, pembangunan moral “Keindonesiaan” bagi anak bangsa. Kedua, pembangunan kompetensi SDM anak bangsa. Kebetulan fokus keduanya ada di wilayah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dengan koordinasi bersama Kementerian terkait.

Sedangkan untuk percepatan pembangunan kompetensi anak bangsa, diperlukan pembangunan moral Keindonesiaan bagi generasi kedepan, sesuai kebutuhan pasar kerja global. Apalagi adanya prediksi sebagai negara dengan perekonomian terbesar ke 7 pada 2030.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF