BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dosen Pidana FH UII dan Kabid Etika & Hukum UII
Presiden Jangan Sampai Gagal Fokus

Pencopotan dan penggantian Elia Massa Manik sebagai Direktur Utama Pertamina dalam durasi waktu yang singkat mengundang banyak pertanyaan. Apalagi ketika beredar kabar bahwa presiden tidak mengetahui adanya pergantian tersebut, padahal dulu Elia Massa Manik adalah orang pilihan presiden untuk menjadi Dirut Pertamina.

Peristiwa ini adalah kesekian kalinya, presiden merasa “kecolongan” atas peristiwa yang terjadi di bawah kontrolnya. Mestinya pengalaman di masa lalu, menjadikan Presiden Jokowi lebih hati-hati dan cermat dalam pelaksanaan tugas, tanggungjawab, dan kewenangannya.

Peristiwa ini menguatkan isu bahwa penetapan pimpinan BUMN sarat dengan nuansa politis. Jika benar demikian, maka pendapat bahwa presiden tidak berdaulat dan berada di bawah kungkungan kepentingan partai pendukung bisa jadi benar. Selain itu, kondisi ini juga menampakkan ada ketidak harmonisan hubungan kekuasaan di lingkaran dalam kabinet.

Secara etik, sikap dan perilaku presiden bisa dikatakan tidak etis. Sebagai pemimpin tertinggi, dia harus mengetahui dan memahami dengan baik ruang lingkup kewenangan, tugas, dan tanggungjawabnya. Sebetulnya sistem dan mekanisme sudah dibangun sedemikian rupa, sehingga diharapkan ada kontrol yang baik. Namun jika sistem itu berjalan hanya bersifat teknis mekanis, maka pada ujungnya tidak ada nilai dan idiologi yang diusung. Bagaimana perpres disusun, bagaimana seorang Dirut BUMN penting diangkat dan digantikan, sudah ada mekanismenya. Jika tanpa disadari sejak awal, maka pada ujungnya bisa ditebak, pengambil keputusan justru bisa mempertanyakan atas kebijakan yang diambilnya sendiri. Namun memang kesadaran itu sering datang terlambat.

Kita tidak sedang membaca kemungkinan, apakah presiden sudah kehilangan daya kontrolnya dan tidak “dipandang” lagi, ataukah hanya cuci tangan. Yang justru penting dilakukan adalah selalu mengontrol dan mengingatkan agar sebagai presiden, Jokowi tidak boleh gagal fokus. Situasi politik menjelang Pilpres 2019 sudah memulai memanas, sedikit banyak menyerap energi Jokowi sebagai orang yang punya ambisi maju kembali untuk dua periode. Sebagai presiden, fokus perhatiannya haruslah pada pelaksanaan tugas profesinya. Jangan sampai, kepentingan pribadi untuk maju dalam kontestasi Pilpres 2019 justru menjadikan ia gagal fokus tidak memberikan perhatian secara baik pada jalannya pemerintah yang masih menjadi kewajibannya. (mry)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Rekonsiliasi Politik di Level Elit Diharapkan Terjadi di Level Sosial.              Tak Ada yang Salah dengan Pertemuan Jokowi Prabowo             Perhatikan Lag antara Demand Side dan Regulasi dari Sisi Supply Side             Tantangan yang Harus Dihadapi Masih Besar             Kemiskinan Makin Sedikit, Sulit Dikurangi             Bansos Tak Efektif Kurangi Kemiskinan             UNHCR Harus Keluar             Pembangunan Negara Hukum Harus Jadi Agenda Prioritas             ‘Visi Indonesia’ Tidak Prioritaskan Pembangunan Hukum dan HAM             Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung