BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
Power to the People

Daftar gaji para petinggi BPIP adalah penghinaan terhadap rakyat, yang masih harus berjuang keras untuk keluar dari kemiskinan dan kesulitan, serta berjuang agar bisa ‘naik kelas’. Gaji yang demikian tinggi juga menunjukkan bahwa para penguasa menganggap uang negara sebagai milik pribadi, yang boleh dibagi-bagi sesuka hati untuk menyenangkan rekan sekomplotan atau membungkam para pengritik.

Dengan daftar gaji demikian mewah,  BPIP tentu bisa dilihat sebagai indikasi kuat buruknya pengelolaan uang negara. Prinsip kehati-hatian telah diambil-alih oleh napsu kekuasaan. Sementara itu rakyat disuguhi berbagai argumentasi yang makin tak masuk akal tentang kenapa utang luar negeri terus melejit,  dan rupiah loyo berkepanjangan.

Entah sandiwara apa yang sedang dimainkan oleh Sri Mulyani yang dianugerahi gelar menteri terbaik oleh  Ernst & Young, sehingga pasang badan untuk menghadapi kritik terhadap gaji supertinggi di BPIP. Bisa jadi, dia sendiri sesungguhnya tak sehebat penilaian Ernst & Young, dan cenderung bersikap 'anything you say boss'.

Rakyat Indonesia memang sedang sial. Di satu sisi, hampir setiap hari disuguhi betapa nekatnya para koruptor menggerogoti uang negara. Tak kalah menjengkelkan adalah kenyataan bahwa para koruptor tersebut suka tersenyum manis di depan kamera wartawan. Di lain sisi, mereka disuguhi oleh kaum elite politik dan birokrasi berbagai cara berfoya-foya memakai uang negara. Gaji mewah di BPIP hanya salah satunya. Masih ada '1001' cara lain untuk bersenang-senang menggunakan uang negara, membuat banyak politisi dan birokrat hidup bagai selebriti Hollywood, meski banyak yang sesungguhnya berselera dangdut koplo.

Itulah Indonesia, dimana gedung-gedung mentereng terus bermunculan seiring dengan santernya berita tentang anak-anak kurang gizi dan sebagainya. Rakyat pun dibuai oleh angka statistik tentang penurunan kemiskinan menggunakan definisi yang jauh dari kenyataan hidup.  Bayangkan,  menurut BPS tahun lalu, seseorang tidak bisa dikatakan miskin bila berpenghasilan lebih dari 375 ribu rupiah per bulan atau 12 ribu rupiah per hari!

Maka tembang “Power to the People” karya John Lennon masih sangat relevan berkumandang di Indonesia. Setidaknya untuk mengingatkan bahwa kalau terus dipermainkan,  People's Power yang menumbangkan diktator Filipina Ferdinand Marcos dan rezim Orba bisa bersemi kembali. (afd)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF