BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Penasihat Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES)
Posisi Tawar China pada Arab Saudi Lebih Tinggi

Indonesia jelas tidak menjadi pertimbangan ekonomi yang serius dibandingkan China buat Arab Saudi. Potensi ekonomi China jauh lebih besar, dan China anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Sehingga secara politik dan ekonomi lebih menguntungkan Arab Saudi bila banyak bekerjasama dengan China dibanding Indonesia.  

China diharapkan Arab Saudi dapat menunjang Visi 2030-nya. Kedekatan ini kebetulan juga persis di saat perusahaan-perusahaan multinasional Barat yang sangat diharapkan berinvestasi di Arab Saudi terkendala oleh kasus pembunuhan Jamal Khashoggi.

Oleh karena itu, dalam situasi ketika Arab Saudi berharap datangnya investasi yang cukup besar, tapi terhalang oleh kasus Khashoggi, maka China masuk. China tidak peduli dengan persoalan dalam negeri Arab Saudi. Bagi China, Arab Saudi adalah pemasok minyak terbesarnya. Buat Arab, China jadi alternatif yang sangat menjanjikan selain India.  

Yang unik, biasanya Arab Saudi memainkan peran untuk memajukan negara Islam dan mendesak negara yang melakukan kebijakan yang meragukan umat Islam. Namun, yang mengejutkan, saat kedatangan putra mahkota Pangeran bin Salman kemarin ke China, dia bilang masalah Uighur adalah masalah dalam negeri China. Dan Arab Saudi takkan mencampuri urusan dalam negeri China. 

Pernyataan Pangeran MBS itu sangat disambut oleh China, karena di saat Turki dan negara Arab lain intensif mengecam China dalam masalah Uighur, Arab Saudi--negara berpengaruh di Timur Tengah--memilih sikap lain. 

China juga bekerjasama dengan Iran, selain dengan Arab Saudi. China menjalankan politik netral di Timur Tengah. China tahu, mereka tak boleh bergesekan dengan Amerika Serikat di Timur Tengah. Sekali ada indikasi China menghalangi kepentingan AS di Timur Tengah, AS akan mengajak sekutunya kian memusuhi China. Arab Saudi pasti akan memilih ikut AS pada akhirnya. Jadi, China juga tak mau bertualang di Timur Tengah ini jadi bumerang. 

Arab Saudi lebih bergantung pada AS untuk pembelian senjata dan teknologi canggih. Bagi Arab, AS tetap mitra utama dan negara paling berpengaruh yang tidak serta merta ditinggalkan. 

Namun, Arab Saudi tidak bisa berbuat banyak juga melihat China bekerjasama dengan Iran, musuh tradisionalnya. Karena China punya posisi tawar yang lebih tinggi. Dan Iran, bagi China, juga sangat penting. Waktu Raja Abdullah belum wafat, raja Arab Saudi itu pernah menawarkan ke pemimpin China Xi Jin Ping, untuk ikut mundur dalam kesepakatan nuklir Iran. Tapi China menolak, karena inisiatif politik "One Belt, One Road" (OBOR) China takkan jalan tanpa menggandeng Iran. Tanpa Iran, China tak bisa berbuat apa-apa. Posisi Iran tak bisa digantikan oleh negara manapun juga, termasuk oleh Arab Saudi.  

Infrastruktur China ke Timur Tengah pasti akan melalui Iran. Iran juga negara yang punya sumber energi yang kaya. Minyak Iran diimpor ke China juga, sehingga China tak tergantung teralu besar pada Arab Saudi. Iran juga negara yang independen, baik pada AS maupun Rusia. Sikap Iran ini sangat diinginkan oleh China.  

Lalu di mana posisi Indonesia? Indonesia harus menerapkan politik luar negeri yang selama ini kita anut, yaitu politik bebas aktif. Kita tetap akan mengambil sikap independen. Kita harus tetap bekerjasama dengan China untuk tetap dapat manfaat dari pertumbuhan dan kemajuan teknologi China. Posisi Indonesia yang strategis dan jadi gerbang masuk ke Samudera Hindia, juga penting buat China mewujudkan politik OBOR. China pasti akan menarik Indonesia ke dalam pengaruhnya, atau paling sedikit China ingin Indonesia bersikap netral. (ade)  

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional