BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pastor dan aktivis penggerak kesadaran manusia
Politikus Saleb Hanya Ilusi

Fenomena selebritas jadi caleg untuk tujuan pendulang suara tidak mempunyai pengaruhi yang signifikan, karena dari beberapa hasil pemilu pasca Reformasi banyak juga selebritas yang menyalonkan menjadi caleg banyak mengalami kegagalan. Apalagi dengan sistem dan aturan saat ini dengan ambang batas 4 persen atau jumlah suara sekitar 12 jutaan sangat sulit bagi selebritas. 

Kesulitan lainnya yang akan dialami selebritas pembagian dapil dan jumlah pembagian suara, dimana dulu partai-partai tengah mendapatkan sisa suara yang dapat menghatarkan calonnya untuk duduk di Senayan. Contohnya Eko Patrio dari PAN.

Menariknya apa yang dilakukan para selebritas dengan mencalonkan menjadi wakil rakyat sebagai suatu gejala, bukan sebagai kesadaran politik. Terlebih lagi, kemungkinan mereka tidak tahu sebenarnya menjadi anggota dewan itu kalau orang tidak selesai dengan diri sendiri itu terlalu berat. Maka pengalaman salah satu selebritas yang tersandung kasus korupsi menunjukan biaya cost politik yang tinggi. Biaya politik yang tinggi ini meliputi: biaya branding, biaya memelihara pemilih yang ada dimasing-masing dapil. 

Biaya politik yang tinggi ini dipengaruhui dengan demokrasi yang sekarang kita terapkan yang lebih kepada pendekatan market. Dalam pilihan-pilihan semacam ini menurut Joh Lock atau ahli-ahli pemasaran politik yang perlu dikhawatirkan adalah pertarungan pertarungan di antara partai sendiri, atau internal partai sendiri cukup kuat, karena suara terbanyak. Suara terbanyak ini adalah demokrasi pasar. Maka kedaulatan di tangan pasar. Oleh karena itu, bagi selebritas yang tidak mempunyai kekuatan arus bawah, yang didalam komunitasnya tidak dipilih, ya sulit. Dia memang terkenal secara nasional tapi tidak di dapilnya

Di satu sisi, loncatan selebritas untuk menjadi caleg itu sebenarnya gejala pengalihan status. Jadi kalau artis itu nanggung, tidak punya pengalaman organisasi, tidak punya pengalaman politik dan tidak punya background latar belakang politik, ya tidak ada gunanya di DPR. Bila terpilih nanti mereka hanya jadi penghias panggung saja. Itu yang harus dipikirkan ulang. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Temuan TPF Novel Tidak Fokus             Bentuk TGPF Independen untuk Kasus Novel Baswedan             Pilah Skema Untuk Proyek Strategis             Risiko Penyertaan Equity Proyek Macet             Diskresi Kepolisian Bermasalah?             Penanganan Tak Sesuai Perkap             Polisi Tidak Dikondisikan Menjadi Arogan             Kita Tidak Dapat Menduga Kondisi Mental Polisi saat Menembak             MPLS Harus Diselenggarakan Sesuai Pedoman             Pendidikan Swasta Semi Militer Harus Ditertibkan