BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
 Dosen Pasca Sarjana UNUSIA, Penggiat seni tradisi dan budaya Nusantara
Politik Nir Etika

Tak ada yang salah dengan demo solidaritas terhadap Palestina. Justru itu pekerjaan mulia selagi diniatkan untuk membela ummat yang terdhalimi. Karena salah satu missi Islam adalah melawan kezaliman.

Tapi sikap ini tetap harus didasari pada pertimbangan taktis, strategis, dan etis. Pertimbangan taktis-strategis ini artinya apakah ekspresi solidaritas dalam bentuk demonstrasi ini semakin menguntungkan atau justru semakin merugikan rakyat Palestina. Karena tidak semua aksi punya dampak yang menguntungkan, terutama jika aksi tersebut  justru bisa mengganggu proses diplomasi dan negosiasi yang sedang terjadi.

Dalam konteks ini, pemerintah Indonesia sudah secara aktif melakukan langkah-langkah diplomatik untuk pembebasan Palestina. Jika aksi solidaritas dalam bentuk demonstrasi massa  justru semakin mengganggu langkah diplomatik dan membuat sikap Israel dan sekutunya menjadi semakin keras, ini artinya aksi massa tidak memiliki nilai taktis dan strategis.

Sedangkan aspek etis terkait dengan kejujuran para pemimpin aksi dan etika dalam melaksanakan aksi. Terkait dengan kejujuran adalah masalah niat, apakah mereka melakukan aksi ini benar-benar karena niat ingin menolong rakyat Palestina, atau sekedar menjadikan isu Palestina sebagai tunggangan untuk mengintrodusir kepentingan politik kelompoknya.

Pernyataan DPP FPI Ja'far Shodiq tentang isu ganti presiden dalam aksi solidaritas Palestina menunjukkan bahwa aksi Palestina sekadar menjadi tunggangan untuk kepentingan politik, karena jelas di sini Jafar Shodiq memasukkan agenda politik kelompoknya pada aksi tersebut. Pernyataan ini melenceng dari tujuan dan agenda aksi bela Palestina dan ini jelas  pelanggaran etika politik.

Demikian juga pernyataan yang menuntut agar ummat Islam Indonesia dipersenjatai untuk bertempur di Palestina. Ini merupakan bentuk pelanggaran etika politik internasional. Selain bertentangan dengan spirit kebangsaan, pernyataan ini juga mencerminkan minimnya pemahaman terjadap etika hubungan internasional. Alih-alih bisa membantu bangsa Palestina, sikap ini justru bisa menyulitkan perjuangan bangsa Palestina.

Sebagaimana diakui oleh Dubes Palestina yang menyatakan pemerintah dan rakyat Palestina menyesalkan adanya pengibaran bendera Palestina pada aksi demonstrasi di Indonesia yang dinilai tidak terkait dengan negara tersebut dan murni urusan politik dalam negeri Indonesia.

Pihak Kedubes Palestina menilai bahwa pengibaran bendera Palestina dalam aksi demonstrasi yang  terkait politik dalam negeri Indonesia sebagai sikap yang tidak dapat diterima dan tidak bisa dianggap sebagai suatu bentuk dukungan atau solidaritas bagi Palestina. Demikian pernyataan Kedubes Palestina dalam siaran.

Meski siaran pers tersebut sudah disampaikan pada bulan Januari lalu, namun tampaknya hal ini tidak menjadi perhatian para peserta aksi. Ini memperkuat indikasi adanya politisasi terhadap isu Palestina. Dan hal ini membuktikan para pemimpin aksi lebih mementingkan agenda politiknya daripada memikirkan nasib rakyat Palestina.

Dengan demikian pernyataan Jafar Shodiq itu jelas menunjukkan sikap politik yang nir etika. Menunggangi isu negara lain dan mengatas namakan solidaritas Islam untuk kepentingan politik kelompoknya dengan mengabaikan kepentingan bangsa yang dibela. Inilah politik atas nama yang tanpa etika dan moral. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)