BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Komisioner Komnas Perempuan
Poligami Sudah Dipraktikkan Sebelum Islam

Watyutink.com - Pertama, poligami sudah dipraktikkan jauh sebelum Islam, bahkan juga dipraktikkan oleh peradaban peradaban besar dunia. Poligami juga lakukan oleh kelompok "non muslim".  Dengan demikian Islam tidak bisa klaim poligami sebagai ajaran Islam.  Keberadaan poligami di dalam kitab suci Al-Quran, tidak menunjukkan bahwa poligami adalah ajaran Islam, melainkan Al-Quran hendak menggambarkan praktek poligami yang zalim. 

Al Quran datang untuk "mengatur praktik poligami" yang dhalim itu. Jadi yang menjadi ajaran Islam adalah "pengaturan praktik poligaminya", bukan poligaminya. 

Kedua, menurut beberapa kitab fiqih, yang lebih utama justru menikah dengan satu istri dari pada poligami. Jadi yang disunnahkan adalah monogami. Poligami baru dibolehkan jika ada alasan. Dalam beberapa tafsir, dikatakan bahwa islam "meng-ibahah-kan, membolehkan poligami". 

Di dalam usul fiqih menjadi perdebatan apakah "ibahah" itu  kategori "hukum" atau bukan?  Sebagian ulama mengatakan bahwa ibahah bukan kategori "hukum". Berarti poligami ya sama dengan makan, minum, tidur, berjalan, dan lain-lain yang boleh dilakukan. Tentu kita boleh mengatakan bahwa makan, minum, berjalan, bukan hukum Islam. Islam datang untuk mengatur. 

Ketiga, di dalam beberapa kitab Tafsir,  seperti kitab "al-Asas fi at Tafsir" karangan Syaikh Sa'id dan Tafsir al-Maraghi juz 4 halaman 128, dinyakan bahwa bahwa "poligami bertentangan dengan mawaddah, rahmah dan sakinah, yang ketiga hal ini merupakan tiang kebahagian kehidupan keluarga, maka tidak seyogyanya seorang Muslim melakukannya, kecuali ada darurat (emergency), tetapi tetap harus berkeyakinan mampu berbuat adil, jika tidak karena dharurat dan dilakukan dengan keadilan, maka poligami hanyalah kedholiman pada diri sendiri, pada istrinya, pada anaknya, dan bahkan pada umatnya". 

Pernyataan dua tafsir ini, menegaskan bahwa islam datang bukan memerintahkan poligami, karena memang poligami sudah terjadi jauh sebelum Islam, melainkan Islam datang untuk mengaturnya. 

Ke empat, sesungguhnya tidak ada perbedaan antara MUI, PBNU dan Juga Komnas Perempuan, sebab MUI dan PBNU akan sepakat dengan Komnas Perempuan, atau Komnas Perempuan akan sepakat dengan PBNU dan MUI bahwa praktik poligami yang dilakukan dengan cara zalim, tidak adil, menyengsarakan anak, istri dan keluarga yang lain adalah "haram".
 
Komnas memandang bahwa "praktik poligami" adalah haram karena berdasar data-data penelitian dan pengaduan pada Komnas, praktik poligami merugikan perempuan. Jadi yang sedang dilihat Komnas Perempuan adalah praktek poligami yang menyebabkan kekerasan kepada perempuan dan anak. Wallahu a'lam. (ade)

CATATAN: Opini ini ditulis lewat rilis yang disebar ke media. 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF