BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta, Guru besar ekonomi UII Yogyakarta, Wakil Ketua PP ISEI
Pola Lama Akan Tergilas Perubahan

Disruptive Innovation, istilah yang dicetuskan oleh Prof. Clayton Christensen tahun 1997 (Australian Government: Productivity Commission, 2016, hal. 15) adalah inovasi yang membantu menciptakan pasar baru, mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada, dan pada akhirnya menggantikan teknologi terdahulu tersebut. Inovasi yang mengganggu pertama kali dipopulerkan dengan istilah teknologi yang mengganggu. Christensen memperkenalkan inovasi yang mengganggu sebagai bentuk gangguan oleh pendatang baru. Pendatang baru tersebut berkompetisi dengan perusahaan incumbent.

Pada umumnya, inovasi baik itu substaining maupun disruptive tidak dapat dielakkan dalam kemajuan industri. Namun, dengan adanya inovasi maka pro-kontra akan terjadi di masyarakat. Banyak fenomena yang dapat dilihat untuk mengkaji apakah inovasi yang terjadi mempunyai dampak lebih menguntungkan atau sebaliknya. Jika substaining inovation hanya memperbaharui teknologi, disruptive akan menggantikan teknologi yang lama dengan yang baru. Disruptive inovation tentu akan menggangu pelaku incumbent karena merasa bisnisnya terancam. Di sisi lain, pelanggan lebih dimudahkan dengan penggunaan teknologi yang lebih mutakhir dalam memberikan pelayanan yang maksimal dengan biaya yang efisien.

Disruptive inovation sejatinya telah mempengaruhi segala aspek di seluruh dunia. Terdapat banyak contoh yang dapat menyadarkan kita semua bahwa, jika kita tidak peduli terhadap gejala disruptive ini, maka ada kemungkinan sebagai bangsa kita akan mengalami kekalahan.Yahoo yang semula merupakan raksasa di dunia internet dan digital big data dengan aset sekitar Rp 1300 triliun, akhirnya harus menyerah kepada persaingan pasar dengan melepas seluruh aset dan sahamnya kepada Verizon dengan nilai sekitar Rp 65 triliun.

Di lain pihak, Google berhasil mengembangkan algoritma yang mampu menangkap pangsa pasar yang lebih canggih. Dapat dikatakan Google lebih cepat mengadopsi tekhnologi sehingga mampu melakukan inovasi.

Begitu pula semua medium surat kabar, televisi, dan media informasi lain dewasa ini perlahan tapi pasti mulai tergerus oleh media sosial. Dalam dunia per-bank-an, bank konvensional masih banyak menggunakan sistem lama dengan melakukan survei dan menggunakan kertas sebagai media penyimpan informasi. Cepat atau lambat, tentu keberadaan mereka akan tersisihkan dengan hadirnya inovasi baru seperti Kredivo. Dengan Kredivo, orang tidak perlu bersusah payah lagi untuk datang ke bank guna mendapatkan kredit.

Konflik sangat mungkin terjadi dalam menanggapi masuknya inovasi yang mengganggu (Sourdin, 2015). Seperti kasus Gojek, pada awal didirikan tidak ada perusahaan angkutan umum yang merasa tersaingi. Namun dengan semakin berkembangnya Gojek dan pangsa pasar yang makin lebar, mulailah banyak pihak incumbent yang merasa terganggu.

Berbagai penjabaran itu hanyalah sebagian kecil contoh dari ratusan inovasi yang mengganggu yang ada di Indonesia. Meski demikian seharusnya contoh yang sedikit itu sudah mampu menggugah kesadaran kita semua bahwa terdapat tantangan yang nyata dalam menghadapi disruptive innovation.

Dunia perguruan tinggi perlu mempersiapkan diri menjawab tantangan tersebut. Pertama, disruptive innovation merupakan pisau bermata dua. Perguruan tinggi perlu menyikapi dengan bijak. Berbagai teknologi perlu dipelajari guna meningkatkan kualitas pendidikan. Bisa saja artificial inteligent akan menggantikan peran dosen dalam mengajar sehingga dosen dan mahasiswa tidak perlu bertemu di dalam kelas secara fisik.

Kedua, perlu berfikir positif dan selalu berinovasi kepada arah yang lebih maju. Ketiga, mahasiswa perlu menyiapkan diri dengan berbagai perubahan yang ada. Membiasakan diri untuk tidak mudah berpuas diri merupakan kunci utama dari inovasi.

Sangat diperlukan kesadaran bersama bahwa inovasi yang ada harus dilawan dengan inovasi pula. Lulusan universitas tidak pantas berpuas diri dengan ijazah yang didapat. Perlu pengembangan yang lebih lanjut agar tidak terlindas oleh perkembangan zaman dan inovasi. Persaingan di dunia yang global akan semakin ketat. Makin banyak pasar yang minim barrier to entry. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir             Banyak Hal Harus Dibenahi dengan kebijakan Strategis dan Tepat             Pertumbuhan Konsumsi Berpotensi Tertahan             Amat Dibutuhkan, Kebijakan Pertanian yang Berpihak pada Petani!