BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti INDEF
Pintar Mencari Peluang Perang Dagang AS-China

Dalam beberapa bulan terakhir, berita mengenai arah kebijakan Presiden Trump sangat berbeda dari pemerintahan Amerika Serikat (AS) sebelumnya. Dari awal kampanye, Trump sudah sangat jelas akan mengusung slogan “America First” dan “Make America Great Again”. Dengan kondisi bahwa perekonomian pada masa terakhir pemerintahan Obama yang terus menurun, dua slogan tersebut terbukti efektif untuk menjadikan Trump sebagai Presiden AS selanjutnya.

Berusaha menepati janjinya, Presiden Trump mengambil langkah paling tidak sejalan dengan tradisi AS, yaitu proteksionisme perdagangan internasional. Kebijakan ini sebagai langkah untuk mengurangi defisit neraca berjalan AS yang semakin memburuk. Terakhir, defisit perdagangan AS mencapai 811 miliar dolar AS, dan hampir setengahnya berasal dari perdagangan dengan China. Ditambah kondisi tenaga kerja yang saat ini belum membaik meskipun data terakhir menunjukkan tingkat pengangguran AS terendah dalam 10 tahun terakhir.

Langkah awal yang diambil adalah memberikan tarif impor ke produk baja dan alumunium sebesar 25 persen dan 15 persen. Baja dan alumunium diproteksi awal karena industri ini adalah industri strategis dan menurut pemerintah AS dapat menyumbang tenaga kerja yang besar. Langkah AS ini diprotes oleh beberapa patner dagang AS seperti China dan Kanada. Bahkan China (share produk baja dan almunium di dunia mencapai 50 persen) memberikan tarif impor kepada produk dari AS seperti pesawat terbang dan kedelai. Tak cukup dengan produk baja dan almunium, pemerintah AS saat ini sedang mempertimbangkan pemberian tarif terhadap produk otomotif termasuk mobil SUV, van, truk kecil, dan komponen otomotif.

Impor produk otomotif mempunyai porsi sebesar 12,23 persen terhadap total impor AS dan nilai ini semakin naik selama 5 tahun terakhir. Pertumbuhannya diklaim mencapai 48 persen dalam 20 tahun terakhir. Tahun 2017, impor produk otomotif mencapai 3,87 persen. Adanya impor produk otomotif ini walaupun dapat menjadi indikator membaiknya ekonomi AS karena menunjukkan ada kegiatan produksi, namun pemerintah AS menganggap produk otomotif yang diimpor tidak menyerap tenaga kerja dan hanya menguntungkan pihak eksportir.

Dampak yang dirasakan oleh Indonesia secara langsung nampaknya sangat kecil karena barang yang dikenakan tarif oleh Amerika bukan sebagai barang ekspor utama Indonesia. Namun dampak secara tidak langsung tidak kecil. Sebagai contoh adalah produk sparepart dan aksesoris. Negara importir utama produk sparepart dan aksesoris dari Indonesia merupakan negara dengan ekspor produk otomotif terbesar ke AS yaitu Jepang (14,69 persen) dan Meksiko (6,32 persen). Artinya dengan adanya pengenaan tarif impor akan menyebabkan dua negara tersebut akan berpikir ulang untuk lebih meningkatkan produksi otomotif untuk dikirim ke AS. Dampak ke belakangnya adalah ekspor sparepart dan aksesoris ke Jepang dan Meksiko akan berpotensi berkurang juga.

Selain sparepart dan aksesoris otomotif yang terancam dengan pengenaan tarif impor produk otomotif oleh AS, produk ekspor unggulan lainnya yang terancam adalah produk karet. Karet ini berguna untuk membuat ban mobil ataupun bagian mobil lainnya. Seperti produk sparepart dan aksesoris, Jepang juga merupakan negara importir terbesar nomor 3 untuk produk karet dari Indonesia. Dengan adanya pengenaan tarif permintaan karet akan diprediksi menurun juga.

Sementara itu, Indonesia juga berpeluang untuk menambah ekspor minyak nabati yang dihasilkan dari minyak sawit. Seperti diketahui dari pembahasan di atas, produk kedelai AS merupakan salah satu penyumbang terbesar ekspor AS ke China, dan kebutuhan minyak nabati China juga masih sangat besar. China yang berencana memberikan tarif impor terhadap produk kedelai AS, akan menaikkan harga minyak nabati di China. Indonesia bisa memenfaatkan celah ini mengingat ekspor minyak kelapa sawit Indonesia ke China meningkat tahun 2017 jika dibandingkan pada 2015. Ekspor CPO Indonesia juga menjadi produk dengan ekspor terbesar ke China nomor dua.(pso)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

Massa Ke MK, Untuk Apa?

0 OPINI | 13 June 2019

Bangsa Xenophobia

13 June 2019

Bahasa Daerah, Merana Nasibmu

2 OPINI | 14 June 2019

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Insentif Pajak, Daya Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan