BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Mantan Ketua DPR RI
Pilihlah Mereka yang Melalui Proses Politik yang Benar

Tidak ada halangan profesi apapun untuk masuk ke ranah politik dengan berjuang menjadi anggota legislatif/ eksekutif. Ada purnawirawan TNI / POLRI, ada eks ASN, ada pengusaha, ada lawyer, ada pengangguran, ada aktivis. Beragam profesi ingin mengabdi di dunia politik, atau ingin menikmati nikmatnya dunia politik yang digambarkan glamour, dan berkuasa. Tidak ketinggalan para artis yang juga ingin mencoba alih profesi, mengadu peruntungan baru, sah-sah saja. Apalagi dunia artis tidak menjanjikan sama sekali untuk jangka panjang.

Inilah persolan parpol kita, hampir dapat dipastikan mereka merekruit secara instan, bukan melalui proses kaderisasi yang berjenjang. Akibatnya dapat dipastikan mereka gagap, mereka tidak paham peran mereka di dunia politik sebagai wakil rakyat yang dipercaya duduk di lembaga legislatif atau eksekutif. Artis tetap berprofesi sebagai artis, jabatan di DPR hanya sebagai status, walaupun ada juga yang mencoba untuk alih profesi sebagai politisi DPR, tapi tetap saja tampilan mereka tidak mencerminkan sebagai wakil rakyat yang empati dengan masalah-masalah yang dihadapi rakyat. 

Pesan dalam UU Parpol, bahwa ada kewajiban parpol untuk menyiapkan calon-calon pemimpin politik yang mewarnai ideologi parpol, melalui rekruitmen dan kaderisasi yang berjenjang tidak bisa diharapkan sama sekali karena memang tidak dilakukan sama sekali. Paling-paling hanya untuk citra saja, bukan bagian persyaratan dalam pencalegkan. 

Intinya Parpol mencari jalan instan merekruit tokoh-tokoh dengan berbagai profesi, tujuannya hanya untuk mendulang suara. Dengan kursi yang banyak di DPR , menjadi alat politik mendapatkan kekuasaan eksekutif, pada akhirnya hanya untuk mencari keuntungan politik semata. 

Ada beberapa partai yang sanggup mendanai calon-calon tertentu agar mau menjadi caleg partainya. Ada partai yang tidak memungut sama sekali iuran, biaya politik, padahal kita tau kontestasi politik memerlukan dana yang tidak sedikit. Apakah kita percaya dengan.partai tersebut? Seharusnya justru dicurigai, karena dipastikan partai tersebut mendanai partai dari kekuasaan politik yang dimilikinya.

Semua paham, ada yang main di energi, ada yang main APBN, ada yang main di pangan, ada yang main di tambang. Tidak terlepas mereka bagian yang juga ikut bermain di Freeport yang sedang jadi isu politik saat ini. Makanya, lebih baik pilih parpol yang jelas kaderisasinya, jelas pendanaannya yang bersumber dari kebersamaan anggotanya, bukan parpol yang sok suci tapi makan kekayaan negara dengan kekuasaannya. Artinya jangan pilih mereka-mereka yang instan, pilihlah yang melalui proses politik yang benar. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Didin S. Damanhuri, Prof., Dr., SE., MS., DEA

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik             Pengaruh High Class Economy dalam Demokrasi di Indonesia (Bagian-1)