BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Produser film, Ketua Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI)
Pilihan Aktor Besar Tak Banyak

Kita tidak punya terlalu banyak aktor-aktor besar. Apalagi yang laki-laki. Mereka lebih sedikit lagi dari yang perempuan. Mungkin itu yang memberikan kesan dia lagi-dia lagi. Dan kebetulan mungkin film-film Reza film-film yang box office. Padahal film Indonesia setahun rilis hampir seratus, tapi yang benar-benar mendapat porsi box office bisa dibilang 10 persenan, dan kemungkinan sebagian dari jumlah itu diperankan aktor yang "dia lagi-dia lagi." Padahal bila didata, film yang dibintanginya (dalam setahun) dibanding seratus film yang rilis berapa. 

Saya bekerjasama dengan Reza Rahadian di film dokumenter Banda the Dark Forgotten Trail (2017). Sutradaranya, Jay Subiyakto, merasa film dokumenter ini butuh narator yang bisa mengaktingkan suara. Jadi bukan sekadar membacakan narasi tapi juga harus meletakkan dirinya dalam narasi tersebut. Pilihan dari sutradara kebetulan jatuh pada Reza. 

Dan dia delivered. Untuk Banda kami punya dua narator. Untuk versi bahasa Inggris dinarasikan Ario Bayu, sedang untuk bahasa Indonesia (yang edar di bioskop sini) oleh Reza Rahadian. Dua orang itu kami pilih karena kemampuan mereka. 

Di film Banda kami sangat puas (dengan hasil kerja Reza). Tanggapan penonton juga positif. Semua merasa senang, bahkan ada yang bilang begini tentang Banda sebagai film sejarah, "Wah, enak juga ya kalau pelajaran sejarah gurunya Reza Rahadian." 

Untuk komentar Hanung Bramantyo kemarin, pertama, saya mau bilang Hanung sudah mengkonfirmasi isi wawancaranya. Jadi saya tak mau memberi komen tentang itu karena saya sendiri paham kadang-kadang interview dan penulisan (berita) kerap tak sama. 

Industri film Indonesia unik dibandingkan industri film di belahan dunia lainnya. Bukan hanya dilihat dari aktor, tapi juga produsernya, produser perempuan Indonesia banyak sekali. Bahkan ada beberapa wartawan dari luar negeri, salah satunya dari Inggris yang mewawancarai saya dan menanyakan hal tersebut. 

Saya rasa, dari segi kesetaraan gender di industri perfilman Indonesia sudah cukup. Saya tak bilang sudah cukup adil atau tidak. Namun saya sendiri tak merasakan ada perbedaan gender di industri film Indonesia. (ade)           
 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Budi Arie Setiadi

Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Indonesia

Edgar Ekaputra

Pakar Industri Keuangan dan Ekonomi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI

Lia KIan, Dr.

Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila