BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Cendikiawan Muslim Nahdlatul Ulama (NU), Staf Ahli Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP), Wakil Rektor Bidang Akademik IAILM Suryalaya Tasikmalaya
Pilgub Jabar Antiklimaks

Menurut saya pasangan yang diusung PDIP itu paket minimal. Sayang sekali partai sebesar PDIP dan pemenang pemilu tapi tidak cukup memiliki sensitivitas dalam membaca batin masyarakat Jawa Barat.

Pasangan TB dan Anton, nampak ditampilkan secara terburu buru dan nyaris tidak lewat perhitungan yang cukup matang, terukur dan memadai. Kedua calon gubernur dan cawagub itu sejatinya datang dari habitat sama. Yang satu tentara satu lagi polisi. Dari sisi popularitas dan elektabilitas jauh di bawah RK dan atau bahkan DM.

Saya tidak tahu rasionalitas seperti apa yang menjadi latar belakangnya. Atau mungkin ada strategi lain yang lebih besar yang tak bisa diteropong publik. Awalnya saya mengira yang didorong RK, dipasangkan dengan kader PDIP. Minimal RK merepresentasikan politik kaum santri dan dapat mendekati kantong suara pemilih yang memiliki ikatan kuat dengan sentimen keislaman. Tapi ternyata tidak terbukti. Jawa barat terkenal sebagai provinsi dengan fantasi politik identitas keagamaan yang kuat.

Dari sisi soliditas justru yang kentara itu pasangan Sudrajat dan Achmad Syaekhu. Paduan antara militer dan islamisme puritanistik. Minimal ketiga partai pengusungnya Gerindra, PAN dan PKS satu barisan. Jika pasangan ini yang menang maka 2019,  trajektori politik pak Jokowi semakin sulit meraih suara di Jawa Barat. Tetapi jika pasangan RK atau DM apalagi TB dan Anthon yang menempati Gedung Sate kerja politik presiden petahana dalam konteks Jawa Barat bisa lebih mudah.

Sisi positif dari empat pasangan minimal isu politisasi identitas tidak lagi mendapat panggung. Hikmah keempat pasangan yang tidak ideal itu menjadi country culture atas gelombang kebangkitan kaum kanan yang menjadi arus utama orientasi politik masyarakat Jawa Barat.

Golkar partai besar tenyata hanya pasang target wagub, sementara Deddy Mizwar yang banyak dikritik karena selama menjadi wagub Ahmad Heryawan tidak melakukan kerja politik optimal justru cagub. Dedi Mulyadi sosok menarik dengan  pengalaman birokrasi panjang yang sejak awal mengincar kursi gubernur malah menerima posisi wagub. Orang Sunda harus manggung yang selalu digembar-gemborkan ternyata hanya sebatas wacana.

RK hemat saya tidak cukup "nyaman" disandingkan dengan Uu Ruzhanul Ulum. RK secara ideologis lebih dekat dengan Kyai Maman Imanul Haq. sayang Maman Imanul Haq tidak ada topangan politik yang kuat. Akhirnya PKB lepas dua duanya. Saeful Huda dan Maman Imanul Haq berada di luar perhelatan politik pilgub.

(cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF