BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Ahli Penerbangan Universitas Pancasila
Pihak Boeing Harus Kembali Melakukan Pengecekan Menyeluruh

Pesawat Ethiopian Airlines ET 302 dan Lion Air JT 610 mengalami kerusakan atau masalah yang identik, yakni crash atau jatuh ke bumi setelah take-off. Lion Air JT 610 jatuh 12 menit setelah lepas landas, sedangkan Ethiopian Airlines ET 302 jatuh setelah enam menit. Artinya, dalam kurun waktu kurang enam bulan, ada dua kecelakaan sejenis yang disebabkan oleh “repetitive trouble” atau gangguan berulang.

Oleh sebab itu, pengecekan harus dilakukan oleh pabrik atau perusahaan Boeing, operator atau maskapai, dan yang terpenting adalah regulator. Kemudian nantinya pihak dari Federal Aviation Administration (FAA) akan segera mengeluarkan semacam “notice to operator” atau bahkan “airworthiness directives (AD)” ke seluruh operator. Bisa berdasarkan “service bulletins (SB)” dari pabrikannya atau hasil investigasinya sendiri. 

Operator juga dapat memeriksa armadanya sendiri dan melaporkan temuannya ke pabrikan dan regulator. Guna melindungi konsumen atau penumpang, regulator Indonesia yakni Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, perlu melakukan tindakan berjaga-jaga (preventive action).

Tindakan pencegahan tersebut dilakukan dengan cara melarang terbang sementara pesawat Boeing 737 Max 8, melakukan pemeriksaan semua dokumen perawatan dan operasi pesawat, serta catatan riwayat pesawat sejak baru hingga kini untuk memastikan 3S (safety, security dan services) + 1C (compliance). Ketiga hal tersebut tentunya harus dijalankan dengan baik dan benar. Mengecek riwayat pesawat juga merupakan penyelesaian semua perintah, kewajiban, dan petunjuk kelaikan udara berupa AD maupun SB.

Sementara itu, penerapa larangan terbang bagi seluruh pesawat dengan jenis Boeing 737 MAX 8 oleh Kemenhub merupakan langkah yang baik. Daripada celaka, lebih baik berhati-hati. Larangan tersebut tentunya dapat menyebabkan gangguan sementara dalam penerbangan, tetapi itu lebih baik karena menyangkut nyawa manusia khususnya dan keselamatan penerbangan umumnya. (grh)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Karyono Wibowo

Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

FOLLOW US

Kapan Merdeka dari KUHP Peninggalan Belanda?             Bangsa Parasit             Tinjau Kembali Politik Pangan             Semantik Munafik Lunatik Kembali Otentik              Indonesia Kehilangan Arah dan Tujuan             74 Tahun RI: Kedaulatan Sebagai Slogan Politik              Perlu Mekanisme Seleksi Khusus             Ketahanan Pangan Indonesia Masih Rapuh             Persoalan Ada Pada Tingkat Konsumsi             Kedaulatan Pangan Didukung Pola Makan dan Perilaku Konsumsi Pangan