BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti Indopolling Network & Dosen Komunikasi Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama)
Pesona Tokoh atau Digdaya Parpol?

Hingar bingar Pilkada serentak 2018 sudah di depan mata. Momentum ini bisa menjadi pemanasan atau warming up menuju Pilpres 2019. Dalam situasi seperti itu, satu pertanyaan klasik muncul: Butuh tokoh atau partai politik (parpol)? Sebelumnya mari kita tengok sejenak fungsi parpol. Secara normatif ideal, fungsi Parpol menurut Pasal 7 UU Nomor 31 Tahun 2002 adalah sebagai pendidikan politik anggotanya dan masyarakat, menciptakan iklim yang kondusif, serta perekat persatuan dan kesatuan bangsa, penyerap, penghimpun dan penyalur aspirasi masyarakat secara konstitusional, partisipasi politik warga negara dan rekrutmen politik.

Tentunya kerangka ideal harus juga menilik kondisi sosiologis. Ketokohan lebih sering menonjol daripada partai. Pesona tokoh seringkali lebih dominan. Meski terkadang  ketokohan dan parpol saling tumpang tindih. Secara historis, ketika Syarikat Islam (SI) berjaya, Pesona HOS Tjokroaminoto melebihi SI. Lazimnya dalam masyarakat yang mesianis, masyarakat  sangat berharap akan hadirnya sosok pembebas atau penyelamat manusia di dalam penderitaannya. Sosok pembebas ini biasa disebut imam Mahdi atau Heru Cokro dalam khazanah Jawa. Tjokroaminoto, Sang “Raja Jawa tanpa mahkota” ini pun dianggap sebagai pembebas. Apalagi namanya ada unsur “Cokro” yang dekat dengan “Heru Cokro.” Begitu juga pesona Bung Karno yang melampaui Partai Nasional Indonesia (PNI) yang ia dirikan.

Secara sosiologis,  masyarakat  bertipe patron klien atau dekat dengan kawula-gusti, peran ketokohan menjadi sentral dalam menjalankan fungsi-fungsi sosial. Peran gusti menjadi figur sentral  bagi kawula dalam menjalankan fungsi perubahan sosial. Sebagai rujukan, dalam konteks politik bernegara Soemarsaid Moertono pernah memaparkan dalam State and statecraft in old Java: a study of the later Mataram period, 16th to 19th century.

Nah bagaimana dengan konteks saat ini? Nampaknya belum banyak bergeser. Tokoh masih menjadi unsur utama. Bahkan bisa menggeser parpol. Jadi fenomena kemunculan Ridwan Kamil, Deddy Mizwar atau Ahok, bukan fenomena baru. Ini hanyalah sebuat titik dari garis yang belum berujung. Namun Ini hanyalah sepotong dari sisi makro. Tentu, harus juga dikaji lebih jauh sisi mikro, seperti proses rekrutmen yang belum maksimal, proses kontestasi pilkada, ataupun karena friksi dan faksional di tubuh parpol. Semuanya memberi warna pada wajah tokoh atau parpol. (ast)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Temuan TPF Novel Tidak Fokus             Bentuk TGPF Independen untuk Kasus Novel Baswedan             Pilah Skema Untuk Proyek Strategis             Risiko Penyertaan Equity Proyek Macet             Diskresi Kepolisian Bermasalah?             Penanganan Tak Sesuai Perkap             Polisi Tidak Dikondisikan Menjadi Arogan             Kita Tidak Dapat Menduga Kondisi Mental Polisi saat Menembak             MPLS Harus Diselenggarakan Sesuai Pedoman             Pendidikan Swasta Semi Militer Harus Ditertibkan