BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dosen Administrasi Publik Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Perwakilan Popularitas

Pada perkembangan dewasa ini, partai politik semakin banyak yang merekrut para artis untuk didudukkan sebagai calon anggota Dewan. Rekruitmen para artis yang tiba-tiba diajak menjadi anggota partai politik memang sah-sah saja. Semua berpulang pada kebijakan para pengurus dan pembina partai, untuk menentukan kebolehan siapapun menjadi anggota partai politik dan siapa yang akan mewakili parpolnya sebagai caleg.

Namun sebagai partai politik yang merupakan organisasi politik yang beridiologi, ada satu hal yang tidak boleh dikesampingkan begitu saja adalah keinginan dan harapan mesyarakat, yaitu adanya sikap yang lebih bertanggung jawab dari partai politik dalam menempatkan anggota-anggotanya untuk menempati kedudukan sebagai anggota dewan. Partai politik seharusnya ikut dan mampu memberikan pendidikan politik kepada masyarakat dengan menyodorkan figur-figur yang dapat dipercaya, berkualitas baik kemampuan berfikir maupun kemampuan skill lainnya yang dapat memberikan perubahan dan sumbangsih yang lebih baik bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Partai politik tidak boleh asal menempatkan orang-orangnya dalam posisi sepenting anggota dewan hanya sekedar berfikir merebut ataupun menguasai kekuasaan semata.

Seperti yang kita ketahui, banyak pemilih kita khususnya di pedesaan yang berlatar pendidikan rendah, mereka  memilih karena suka dan bukan karena pertimbangan latar belakang. Seseorang bisa saja memilih seorang artis hanya karena suka dengan aktingnya ataupun lainnya, ataupun mungkin juga keseksiannya. Pemilih awam seperti itu ternyata sangat banyak. Mereka memilih tidak dengan pemikiran jangka panjang. Hal ini  karena latar pendidikan mereka  memang rendah dan konyolnya, partai politik menggunakan kelemahan mereka tersebut.

Seharusnya partai politik ikut bertanggung jawab  memberikan pendidikan politik kepada simpatisannya, bukan memanfaatkan kebodohan para simpatisannya. Tetapi hal tersebut, dengan maraknya para artis masuk ke dalam dunia politik, tidaklah salah. Hanya yang menjadi persoalan, bagaimana partai politik mempunyai sistem dan seleksi terhadap proses kaderisasi dan regenerasi dalam bertarung politik dengan gagasan dan ide yang baik sekaligus cerdas. Dengan adanya sistem dan seleksi saja partai politik masih mengalami kekurangan maupun keterbatasan SDM yang diharapkan dalam menjawab tantangan masyarakat terhadap dinamika dan dialektikanya, apalagi hal tersebut tidak ada atau tidak terencana dengan baik.

Jabatan menjadi anggota dewan bukan jabatan main-main, apalagi menjadi peralihan profesi. Satu orang anggota dewan mengemban ratusan ribu amanat rakyat. DPR bukan tempat magang, tetapi tempat yang harus ditempati oleh orang-orang yang mumpuni baik secara keilmuan, etika, akhlak dan moral yang baik. (cmk)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Inovasi Kebijakan yang Tidak Menjual             Kebijakan Tergantung Tujuan Awalnya             Kebaya Tak Perlu Dipertanyakan             Penggalian Nilai Budaya Dibalik Kebaya             Berkebaya Adalah Kesadaran             Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?             Kebutuhan Gas Dalam Negeri Harus Diutamakan