BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Keayahbundaan dan Perlindungan Anak.
Pertumbuhan Pesat Kloning Kaum LGBT

Grup facebook gay tersebut pada dasarnya hanya salah satu dari banyaknya grup di pelbagai platform medsos yang tetap eksis hingga saat ini, baik itu grup tertutup maupun terbuka, yang menjadi wadah komunikasi dan berbagi info antar para pengamal dan penghayat orientasi seks menyimpang (LGBT), mencari sasaran kencan, sekaligus perluasan jaringan, promosi dan propaganda terselubung mereka. 

Banyak pihak heran, kok bisa sih perilaku dan orientasi seks menyimpang LGBT itu semakin banyak saja penganutnya pada saat ini, bahkan telah merambah pada banyak anak di bawah umur, termasuk yang tinggal di pelbagai pelosok daerah yang sebelumnya relatif nihil dari perilaku seks menyimpang?

Dalam konteks itu, ada beberapa realitas yang menopang semakin banyaknya jumlah pengamal dan penghayat orientasi seks menyimpang LGBT. Pertama, pesatnya penggunaan medsos dan gawai berbasis internet dalam satu dekade terakhir ini yang telah turut memperbanyak dan memperluas cakupan rekruitmen dan proses kloning perilaku dan orientasi seks menyimpang di tengah masyarakat, tak terkecuali di kalangan anak-anak. 

Lewat internet dan medsos yang dinikmati secara personal, apalagi oleh anak yang belum diberikan pemahaman yang utuh tentang seks dan orientasi seks yang sehat dan kodrati, maka lambat laun sebuah ide sesat dan visualisasi tentang orientasi seks menyimpang tersebut akhirnya akan terbenam di sistim memori anak. Lalu dalam perkembangannya berpotensi mengaktual menjadi perilaku yang akan turut dilakoninya jika tak segera ada koreksi atas pemahaman sesat yang telah membenam itu. 

Kedua, ada banyak kasus dan korban aksi tindak pidana sodomi terhadap anak dalam rentang beberapa dekade terakhir ini di pelbagai daerah dalam cakupan wilayah yang tersebar luas, baik yang terungkap maupun yang tidak terungkap polisi dan media. Terlebih para korban tidak mendapat bimbingan konseling dan terapi secara tuntas, sehingga hal itu berpotensi mengkloning para korban menjadi pengamal dan penghayat seks menyimpang. Contoh atas kasus seperti ini amat banyak terjadi. Salah satu yang terkenal adalah Emon, penyodomi serial dari Sukabumi yang sebelumnya adalah korban sodomi. 

Ketiga, LGBT sesungguhnya sudah ada sejak tahun 1970-an dan telah tumbuh sebagai gerakan internasional yang solid. Dengan pendanaan kuat, pengikut dan simpatisannya yang terus meluas, tak terkecuali dari kalangan selebritis, politisi dan ilmuwan, secara agresif mempromosikan orientasi seks menyimpang secara luas ke pelbagai negara. Baik secara terang-terangan, maupun semi terang-terangan dan sembunyi-sembunyi.

Keempat, adanya keberlangsungan upaya-upaya pembenaran perilaku dan orientasi seks menyimpang lewat jubah sains. Sehingga kebenaran yang dikatakan banyak orang terkait orientasi seks menyimpang seperti LGBT itu justru menurut mereka merupakan perilaku dan orientasi seks yang amat kodrati, bukanlah penyakit atau sejenis gangguan kejiwaan.

Kini persoalannya, apakah kita sebagai bangsa tergerak untuk kompak bersama merumuskan dan menjalankan agenda-agenda kebangsaan secara sungguh-sungguh yang menjadi antitesis atas keempat realitas menonjol yang berlangsung terkait perilaku dan orientasi seks menyimpang tersebut? Karena sesungguhnya perilaku dan orientasi seks menyimpang pada diri seseorang, sangatlah bisa untuk dikembalikan pada fitrahnya yang sejati. (grh)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

FOLLOW US

Upaya Perampokan Aset Negara di BUMN Geo Dipa Energi (Bagian-1)             Upaya Perampokan Aset Negara di BUMN Geo Dipa Energi (Bagian-2)             Rupiah Terpuruk di Atas Struktur Ekonomi Tak Sehat (1)             Selesaikan PR Rantai Ekspor, Ekonomi Biaya Tinggi (2)             Kuncinya Pada Penyediaan Infrastruktur Dasar             Maksimalkan Desentralisasi, Tak Perlu Asimetris             Otsus, Antara Bencana Atau Solusi             Otonomi Daerah Jangan Setengah-Setengah             Bereskan Dulu Masalah Penggunaan Dana Desa, Baru Bicara Dana Kelurahan             Oknum ASN Harus Berhenti Memposisikan Diri Seolah Pemilik Instansi