BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Wakil Ketua Ikatan Alumni Teknik Industri ITB
Perlu Sentuhan Teknologi Dalam Pergaraman Indonesia

Dari video di Youtube, pengolahan garam yang dilakukan Australia memperlihatkan betapa di masa lalu teknologi mereka lebih maju ketimbang pengolahan garam rakyat kita. Jadi, kurang tepat menyandingkan isu masalah tambang dengan memproses dari air laut.

Yang menjadi kunci antara negara kita dengan Australia dan negara lain penghasil garam adalah: kelembaban udara. Sebagai negara dengan posisi di khatulistiwa, udara kita kelembabannya tinggi. Sehingga kecepatan penguapan juga rendah. Begitu juga tentang hujan. Itu jelas melemahkan daya saing kita.

Produksi garam rakyat dengan kondisi apa adanya berharga Rp300-500 per kg. Seandainya ada sentuhan teknologi, maka produktifitas mereka akan bertambah dan kualitas meningkat. Namun apakah mereka mampu (dan mau) berinvestasi meningkatkan teknologi?

Dalam garam, umumnya dibedakan antara pemilik tanah dan pengelola. Yang umumnya miskin adalah pengelola. Sementara untuk pemilik lahan, umumnya cukup berada. Cukup banyak yang pemilik ini bekerja di bidang-bidang lain, sedangkan garamnya dikerjasamakan dengan pengelola. Artinya: pemilik menerima penghasilan dari pekerjaan existing, dan tambahan dari bagi hasil garam. Skema bagi hasil umumnya adalah 1:2 (1 pengelola, 2 pemilik lahan). Dengan kondisi tersebut, jika akan diimplementasikan teknologi, siapa yang akan menanggung, pemilik lahan atau yang mengelola? Dan bagaimana bagi hasil setelah ada tambahan teknologi tersebut? Jangan salah.. teknologi juga suatu saat akan rusak sehingga perlu maintenance dan penggantian. Misal di awal pemerintah memberi bantuan teknologi, kemudian siapa yang menanggung maintenance dan penggantian tersebut? 

Jika skema ini belum dipikirkan, dikhawatirkan bantuan dari pemerintah jadi ibarat menabur garam di laut, alias tidak berdampak banyak. Mungkin sesaat menaikkan hasil produksi, tapi menyisakan pertanyaan: siapa yang menikmati hasil produksi tersebut? Pemilik lahan yang sudah kaya atau pengelola yang miskin?

Lalu apakah peningkatan tersebut akan terus menerus, atau nanti akan turun lagi karena tidak ada maintenance dan penggantian ketika teknologi sudah habis umur teknisnya? 

Terkait hubungan antara pengelola dan pemilik lahan, Pemerintah memang sulit mengatur, karena itu mekanisme pasar. Masing-masing pihak akan saling bernegosiasi sehingga di dapat kesepakatan. Yang perlu dilakukan pemerintah adalah menerapkan aturan tata ruang sehingga ketika suatu lahan sudah ditentukan sebagai ladang garam, maka dilarang untuk dialihfungsikan baik menjadi tambak udang/bandeng, atau lahan industri. Dengan adanya aturan tata ruang tersebut, maka pemilik lahan harus mengoperasikan lahannya untuk ladang garam. Terserah mau dikerjasamakan atau ditangani sendiri.

Dengan adanya penguncian ini, maka daya tawar pemilik lahan berkurang terhadap pengelola, karena tidak bisa mengalihfungsikan. Target produksi nasional juga lebih realistis karena tidak dipengaruhi oleh perubahan penggunaan lahan. (ast)

 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Tauhid Ahmad

Executive Director INDEF

Agus Herta Sumarto

Peneliti INDEF

Deniey Adi Purwanto

Peneliti INDEF