BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Kepala Badan Standarisasi Nasional (BSN)
Perlu Pendekatan Out of The Box

Data BPS yang baru dirilis menunjukkan meningkatnya impor bahan baku dan bahan penolong. Masih terlalu dini untuk dikatakan angin segar untuk industri pengolahan. Apalagi kalau hal ini dijadikan barometer untuk penguatan industri dalam negeri di era global dan digital. 

Untuk menjadikan platform yang kuat bagi penguatan industri yang berdaya saing dan berkelanjutan, masih diperlukan pendekatan di luar rutinitas (out of the box). Meskipun bagai angin segar bagi industri dalam negeri, namun masih menyisakan “PR” untuk menjamin pertumbuhan yang berkelanjutan. Hal ini mengingat lebih dari 60 persen industri kita masih tergantung dari bahan baku dan bahan penolong dari luar. Bahkan untuk industri farmasi, ketergantungan bahan baku dan bahan penolong bisa mencapai 90 persen.

Beberapa komponen suku cadang dan bahan aktif obat industri dalam negeri masih sangat tergantung dari luar, meskipun beberapa industri telah mampu memproduksi bahan baku, namun belum ada link and macth antara produsen dan industri. Untuk produksi bahan aktif, banyak hasil riset berbagai institusi telah siap melakukan hilirisasi dengan sedikit pemolesan untuk mengisi bahan substitusi.

Untuk mempercepat suplai bahan baku dan bahan penolong, perlu upaya sistematik dan dukungan IPTEK dalam negeri melalui hilirisasi hasil riset. Untuk itu diperlukan revisit dan detailed assessment terhadap rencana strategis di berbagai kementerian sektoral. Pemetaan lebih detail diperlukan dengan memperhatikan potensi lintas sektoral yang selama ini masih belum terkoneksi dengan baik sehingga datanya tidak ter-update. Di luar itu, maraknya perdagangan daring perlu mendapat perhatian khusus, karena banyak produsen skala UKM yang lebih memilih menggunakan jalur ini.

Permasalahan tidak terpenuhinya kebutuhan bahan baku industri tidak semata-mata karena tidak tersedia di dalam negeri. Indonesia adalah negara kaya sumber daya alam baik biologi (nabati dan hewani) maupun mineral. Khusus nabati, sebagai negara mega biodiversity mestinya mampu menyediakan bahan baku industri farmasi. Namun permasalahannya bukan terletak pada ketersedian, tetapi menyangkut kuantitas, mutu, dan kontinuitas. Oleh karena itu kemandirian bahan baku memerlukan pendekatan multisektoral. Kapan dan dimana memproduksi, berapa banyak, dan standar mutu yang diinginkan industri harus terkoneksi dengan baik.

Untuk itu diperlukan strategi multi sektoral dan direncanakan dengan baik dari hulu ke hilir. Di samping itu produksi bahan baku yang ada dimana-mana memerlukan penanganan logistik yang baik.

Beberapa tahun lalu petani tomat di Garut tidak bisa menjual hasil panen. Mereka marah dan membuang hasil panen tomat mereka ke parit. Sementara itu, ada pabrik pengalengan ikan di Jatim yang memiliki gudang berukuran 1000 m3 melakukan impor tomat tahunan dari Tiongkok.

Interkenoneksi antar produsen bahan baku/penolong dengan industri memerlukan pendekatan yang sistemik. Ironisnya, sebagai reaksi spontan untuk membangun rasa simpati, berbagai kantor kementerian mengadakan bazaar pasar produk segar di antaranya untuk membantu pemasaran produk sebagai solusi empatif. Tindakan ini tentu sifatnya reaktif, namun by system pastinya harus dikaji lebih komprehensif lagi.

Contoh lain, di industri rekayasa mesin skala kecil menengah punya kemampunan desain engineering dan produksi yang sudah sangat bagus, bahkan mampu mengkopi mesin yang dimpor dari luar negeri. Namun mereka mengeluhkan ketersediaan produk komponen seperti sistem kontrol yang harus harus diimpor dari Taiwan, Tiongkok, dan lain-lain. Selain itu, mereka bukan tidak mampu membuat, tetapi belum ada kepastian pembelinya meskipun yang memerlukan banyak. Interkoneksi industri pembuat dan pemakai belum terbangun. .

Ini memerlukan intervensi pemerintah, misalnya melalui pendirian konsorsium industri pembuat komponen dan industri pemakai. Konsorsium menetapkan spesifikasi bersama dan memberikan feedback terhadap mutu produk. Pemerintah dapat memberikan insentif di awal sampai mekanisme pasar berjalan secara normal. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan eksositem yang baik pada industri komponen alat kontrol. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Rekonsiliasi Politik di Level Elit Diharapkan Terjadi di Level Sosial.              Tak Ada yang Salah dengan Pertemuan Jokowi Prabowo             Perhatikan Lag antara Demand Side dan Regulasi dari Sisi Supply Side             Tantangan yang Harus Dihadapi Masih Besar             Kemiskinan Makin Sedikit, Sulit Dikurangi             Bansos Tak Efektif Kurangi Kemiskinan             UNHCR Harus Keluar             Pembangunan Negara Hukum Harus Jadi Agenda Prioritas             ‘Visi Indonesia’ Tidak Prioritaskan Pembangunan Hukum dan HAM             Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung