BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)
Perkuat Industri Karet, Furnitur, Elektronik Hadapi Resesi

Resesi yang akan datang berbeda dengan resesi pada 2008. Saya sependapat dengan Nouriel Roubini, seorang ekonom tersohor Amerika Serikat yang mengatakan bahwa penyebab resesi yang akan datang adalah negative supply shocks.

Artinya, ke depan supply dari barang akan mulai terganggu dari segi kuantitas dan harga. Dalam jangka panjang akan merembet pada harga yang mahal, menurunkan daya beli konsumen, dan berimplikasi pada perlambatan ekonomi.

Setidaknya ada tiga shocks yang menyebabkan resesi global: eskalasi perang dagang, perang teknologi, dan harga minyak. Namun pada kesempatan kali ini saya akan coba bahasa satu isu mengenai eskalasi perang dagang.

Berdasarkan perhitungan dari Peterson Institute, tidak hanya barang konsumsi, ke depan beban tarif yang diberikan oleh AS akan lebih banyak menyasar pada barang modal dari China.

Tentu kita akan menunggu pertemuan Trump dan Xi Jinping pada Oktober nanti. Jika hasil pertemuan ini tidak tercapai kesepakatan untuk menurunkan tensi perang dagang, maka gelombang resesi akan semakin dekat.

Sebetulnya makroekonomi Indonesia sendiri sudah cukup teruji dalam melewati badai guncangan ekonomi global yang berimbas pada capital outflow. Sebut saja 2008 dengan krisis subprime mortgage sebagai pemicunya, 2013 (taper tantrum), dan 2018 (stock market correction). Namun, resesi ke depan ini hanya sedikit melibatkan otoritas moneter dan keuangan karena bisa jadi banyak berasal dari perdagangan.

 Jika berasal dari perdagangan, apakah Indonesia diuntungkan karena trade to GDP nya masih kecil  yakni 43 persen dari GDP pada  2018, sementara Malaysia akan terdampak besar karena rasionya mencapai 132 persen dari GDP. Tentu tidak, karena komoditas terbesar yang diekspor dari Indonesia adalah barang mentah yang sangat volatile terhadap harga dan permintaan.

Berdasarkan data BPS, dalam dua tahun ini kinerja perdagangan Indonesia tidak begitu baik. Ini adalah bukti betapa kita sangat rentan dengan guncangan perdagangan global.

Apa yang perlu dilakukan Indonesia untuk menghadapi gelombang resesi yang akan datang dari sisi perdagangan dan industri? Perkuat basis produksi dan mengejar perbaikan pada industri prioritas yang berorientasi ekspor ke pasar dan negara dengan konsumen terbesar, salah satunya adalah Amerika Serikat.

Namun pertanyaannya kemudian, industri prioritas apa yang perlu kita kejar mengingat waktu sudah semakin sempit dan resesi global hanya menunggu hitungan waktu saja.

Pengenaan tarif oleh Amerika Serikat terhadap barang-barang dari China ditetapkan di Section 301 dalam Trade Act 1974. Indonesia bisa memanfaatkan peluang ini dengan berfokus pada perdagangan dengan komoditas atau produk unggulan yang saat ini dimiliki. Beberapa produk unggulan yang kita miliki bahkan tidak terkena tarif di Section 301 dan juga masih diberikan fasilitas pembebasan tarif GSP.

Jadi secara sederhana, kuncinya ada dua: melihat produk China di Amerika Serikat yang terkena tarif dan produk Indonesia yang masih diberikan pembebasan tarif GSP. Jika demikian, setidaknya ada tiga industri yang perlu diperkuat dalam jangka pendek untuk menghadapi tantangan resesi ini yaitu ndustri karet, furniture, dan elektronik.

Pertama, industri karet. Di Amerika Serikat, Indonesia menjadi pemain ke-6 terbesar dengan menguasai pasar produk karet setara dengan 1,9 miliar dolar AS. China sendiri sudah dikenakan tarif Section 301 atas produk karetnya, dan sebanyak 42 persen produk karet Indonesia dikenakan pembebasan tarif GSP. Produk utama yang bisa dikejar adalah Ban Truk dan Bis serta Ban Radial (ban yang dipergunakan untuk kendaraan balap), lalu juga ada sarung tangan medis dan karet.

Data ini dari ITC Trademap (2019). Jika melihat data tersebut, kompetitor utama di komoditas ini adalah Thailand yang menguasai 11,8 persen pasar produk karet di Amerika Serikat. Sebagai sesama negara International Tripartite Rubber Council (ITRC), yang mampu menghasilkan karet alam dan juga buatan, Indonesia perlu mengejar ketertinggalannya untuk ekspor di produk ini.

Namun demikian, Indonesia menghadapi tantangan dalam mengembangkan industri ini. Realisasi FDI di sektor karet masih belum ada tanda-tanda kembali jaya seperti pada kuartal I-2017 yang sempat menembus 295,1 juta dolar AS, di kuartal I-2019 hanya tercatat 106,2 juta dolar AS sementara pada kuartal II-2019 hanya 95 juta dolar AS atau turun 43,6 persen dari periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Kedua, produk furnitur. Meski tidak sebesar produk karet, namun Indonesia masih menjadi bagian dari 10 besar eksportir di Amerika Serikat dengan nilai ekspor sebesar 0,9 miliar dolar AS di 2018. Saat ini sebanyak 73 persen dari total nilai produk furnitur dari China sudah dikenakan 25 persen tarif impor oleh Amerika Serikat sehingga ini sebetulnya menjadi peluang bagi Indonesia.

Di Asia, selain masih kalah dengan China untuk pangsa produk mebel atau furnitur di Amerika Serikat, Indonesia juga masih kalah dengan Vietnam dan Malaysia.

Permasalahannya industri furnitur masih belum memberikan kinerja yang cukup baik. Beberapa pabrik furnitur tutup terutama yang berada di daerah sentra furnitur seperti di Jawa Timur dan beberapa merelokasi basis produksinya ke Vietnam dan Malaysia. Relokasi ini tidak hanya terjadi dari Indonesia, bahkan ini juga terjadi di China yang merelokasi pabriknya ke Vietnam untuk dapat masuk ke pasar Amerika Serikat.

Terakhir, industri elektronik. Produk elektronik dari China merupakan produk yang paling terkena dampak dari perang dagang ini. Perang dagang pun kini mulai menjadi perang teknologi ketika melibatkan industri elektronik di dalamnya.

Meski sangat kecil pasar produk elektronik yang dikuasai di Amerika Serikat sebesar 0,4 persen atau hanya setara 1,3 miliar dolar AS, tetapi bagi Indonesia, Amerika Serikat merupakan negara importir produk elektronik dari Indonesia ketiga terbesar setelah Singapura, dan Jepang.

Tantangan yang cukup berat ketika berbicara industri elektronik adalah bagaimana industri ini mampu berdaya saing kembali setelah Vietnam menjadi pusat produksi elektronik limpahan dari China. (sar)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pajak lebih Besar untuk Investasi Tidak Produktif             Semua Program Pengentasan Kesenjangan Harus dikaji Ulang             Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi