BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia
Perekonomian Dunia Masih Dihantui Ketegangan dan Ketidakpastian

Perekonomian dunia pada 2020, akan ditandai dengan ketegangan baru. Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China belum berakhir, malah makin menunjukkan eskalasi peningkatan. Baik China dan AS masing-masing malah akan saling menaikkan kembali tarif bea masuk produk lawannya. Perang dagang tersebut bukannya mereda, malah semakin meluas dengan melibatkan Uni Eropa (UE) yang juga akan segera menaikkan tarif bea masuk komponen pesawat Boeing ke UE. 

Begitu pula ketegangan ekonomi baru antara Jepang dan Korea Selatan, menambah rumitnya peta perang dagang dunia. Jepang menghapus Korsel dari daftar white list alias mitra dagang favorit. Sejumlah fasilitas ekonomi yang selama ini didapat Korsel tidak lagi diberikan.

Pemilihan Presiden Amerika Serikat yang dijadwalkan pada 2020 ikut menambah ketidakpastian ekonomi dunia. Sebabnya, kans Donald Trump untuk terpilih kembali sebagai Presiden AS cukup besar. Trump diperkirakan akan memainkan emosi pemilih AS dengan isu perang dagang, dan perlunya AS memenangkan perang dagang dengan China untuk menyelamatkan perekonomian AS.

Ada sentimen yang menyebutkan bahwa perekonomian dunia bisa berubah ke arah yang lebih baik, justru jika Trump tidak lagi terpilih sebagai Presiden AS.

Isu kenaikan harga minyak dan geopolitik kawasan Timur Tengah, juga persaingan ekonomi China dan India, diperkirakan ikut menambah rangkaian ketidakapastian global tahun depan.

Sementara itu di beberapa negara Uni Eropa mulai dilanda kontraksi produksi. Diantaranya Jerman.

International Monetary Fund (IMF) mulai memprediksi perumbuhan ekonmi dunia akan berada pada kisaran 3,4 persen. Hal itu akibat adanya kebijakan stimulus fiskal yang dilakukan beberapa Negara Uni Eropa dan China. India dikabarkan juga mulai menerapkan kebijakan corporate tax.

Untuk transaksi perdagangan dunia, meski kondisi terakhir terjadi penurunan skala transaksi perdagangan dunia, namun ada gejala kenaikan harga komoditas batubara dan minyak sawit dunia. Tetapi itupun masih bersifat marginal. China, karena juga sedang mengalami kontraksi dalam pertumbuhan ekonominya yang menurun drastis mulai memikirkan untuk menggunakan energi murah, yakni batubara dan minyak sawit, tetapi tidak terlalu signifikan.

Di dalam negeri, perekonomian domestik diperkirakan akan mengalami Perbumbuhan ekonomi (PDB) yang lebih rendah dari pencapaian di tahun 2019. PDB diperkirakan berkisar pada 4,6 – 5,1 persen dengan penyimpangan 0,1-0,2 persen.

Kebijakan fiskal dalam negeri masih akan ketat dan terdapat risiko inflasi akan meningkat. Harga komoditas andalan ekspor memang akan meningkat tetapi masih dalam kondisi marginal. Konsumsi swasta juga berpeluang mengalami pelemahan. Ditandai sejak kuartal ke II-2019 yang mengalami pelambatan konsumsi sebesar 1,41 persen.

Terdapat Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur telah mengalami kontraksi dengan pelemahan sektor industri manufaktur. Namun perkembangan terbaru, terjadi juga pengurangan order bahkan dari dalam negeri sendiri.

Investasi yang pada kuartal III/2019 sempat tumbuh 18,9 persen diperkirakan masih akan mengalami hambatan karena kontraksi yang terjadi pada sektor industri manufaktur yang melemah sebanyak 11 persen. Padahal tahun lalu smpat tumbuh sebesar 24 persen. Pertumbuhan industry manufaktur 2020 diperkirakan masih akan terbatas karena efek kontraksi pada sektor manufaktur 2019 yang terlalu dalam. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir             Banyak Hal Harus Dibenahi dengan kebijakan Strategis dan Tepat             Pertumbuhan Konsumsi Berpotensi Tertahan             Amat Dibutuhkan, Kebijakan Pertanian yang Berpihak pada Petani!