BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Perbaiki Regulasi Bidang Industri dan Investasi

Pertumbuhan ekonomi kuartal I/2019 sebesar 5,07 persen sebetulnya sudah dapat diduga sebelumnya. Bahkan sudah diprediksi pada kuartal 1/2019 ini saya memproyeksikan sekitar 4,9 persen. Sedikit terbantu oleh pilpres sekitar 0,1. Memang faktor-faktor pembentuk pertumbuhan ekonomi pada 2019 memang tidak terlalu siginifikan kalau kita melihat dari sisi konsumsi tumbuhnya tidak jauh dari 5 persen. Bahkan selalu di bawah pertumbuhan ekonomi.

Angka 5.02 persen untuk konsumsi rumah tangga sebetulnya sudah cukup baik dan kalau kita melihat kecenderungan dari investasi dan juga ekspor, itu juga melemah. Tapi yang jelas untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi kita tidak bisa semata-mata hanya mengandalkan konsumsi.

Konsumsi rumah tangga saat ini sudah mencapai tingkat keseimbangan alaminya. Kita membutuhkan peran yang lebih besar dari investasi dan juga ekspor.

Untuk target pertumbuhan ekonomi 2019, angka 5,3 persen sepertinya cukup sulit. Proyeksi saya maksimal hanya 5,12 persen. Hal itu karena masih ada persoalan seperti current account deficit (CAD) yang masih selalu membayangi. Kalau kita membicarakan CAD, maka kembali ke masalah ekspor dan investasi.

Untuk meningkatkan ekspor butuh usaha-usaha jangka menengah panjang. Pada jangka pendek, terdapat masalah di industri yang cukup tertahan pergerakannya, tumbuhnya selalu di bawah pertumbuhan ekonomi.

Ke depan, selain meningkatkan produktivitas dalam negeri dari sisi industri dan tenaga kerja, kita juga harus segera mencari pasar-pasar non tradisional, dan kebijakannya harus lebih outward looking, bukan inward looking seperti sekarang. Sementara kita juga butuh membangun jejaring baru di luar pasar-pasar tradisional kita, yaitu di pasar-pasar non tradisional.

Dari sisi investasi tentunya kita harus membangun iklim investasi yang kondusif, dimana dalam beberapa tahun terakhir kebijakannya cenderung tidak konsisten. Trend FDI atau modal asing juga justru turun, itu yang harus didorong kembali. Caranya, salah satunya dengan membangun institusi yang lebih baik.

Dari sisi world governance index kita masih sangat tertinggal dari segi kualitas regulasi dan penegakan hukum serta keefektifan pemerintahan berupa birokrasi yang terlalu berbelit-belit. Hal-hal itu merupakan faktor-faktor penghambat dari sisi world governance index yang dikeluarkan oleh World Bank. Dari enam faktor, diantaranya tiga faktor ini yakni kualitas regulasi, penegakan hukum dan birokrasi yang terlalu berat yang membebani pemerintahan. Hal itu juga membuat investasi mandeg.

Jika disebutkan Investasi saat ini jauh turun dibanding lima kuartal sebelumnya, karena investasi yang dibutuhan adalah yang sifatnya jangka panjang dan bukan portofolio investment. Jika bicara portofolio investment memang angka cukup lumayan masuknya sejak Januari sampai Mei 2019.

Untuk investasi jangka panjang (FDI) memang mandeg. Hal itu karena ketidakkonsistenan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir terutama ketika menerbitkan kebijakan lalu dianulir. Hal itu beberapa hal yang cukup diperhatikan oleh investor.

Konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penyumbang terbesar PDB di satu sisi memang bagus karena itu berarti kita punya sumber andalan, tetapi kita tidak bisa selalu mengandalkan konsumsi. Konsumsi kita agak sulit untuk ditingkatkan lagi dari levelnya yang sekarang. Kalaupun bisa, harus dibarengi dengan sumber-sumber pertumbuhan yang baru seperti ekspor dan investasi.

Rekomendasi yang dapat diberikan adalah kembali memperbaiki ekspor dan investasi. Ekspor butuh jangka menengah dan panjang karena membangun industri butuh infrastruktur. Infrastruktur yang dibangun tentunya untuk mendorong industri, bukan infrastruktur yang saat ini cukup terbatas daya dukungnya bagi industri.

Kita misalnya bisa membangun infrastruktur di sektor maritim yang diharapkan akan menurunkan secara signifikan ongkos produksi atau ongkos angkut bagi industri. Berbeda dengan membangun jalan tol untuk angkutan orang, bukan angkutan barang, yang tidak punya daya dukung bagi industri. Kalaupun punya, cukup terbatas.

Lalu reformasi dari sisi regulasi, utamanya regulasi dari kebijakan industri, juga regulasi kebijakan-kebijakan investasi untuk mengatasi hambatan investasi dan juga Undang-undang Ketenagakerjaan. (pso)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional