BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)
Perang Dagang atau Dagang Perang

Agama Samawi keturunan Abraham mencatat perang saudara pertama adalah Kabil membunuh Habil karena Kabil cemburu Tuhan lebih memilih persembahan adiknya ketimbang kinerja Kabil. Itulah "Kabilisme" yang menolak meritokrasi karena merasa dia anak sulung mestinya lebih diberkati.

Sejak itu seperti "cerita Alkitab" maka turunan Kabil dan Habil akan terus berseteru. Kalah berdagang, pindah ke perang fisik, senjata. Dari situ riwayat benua Eropa di abad modern meletus dua kali perang dunia karena Jerman dan Perancis musuh bebuyutan saling berperang memperebutkan hegemoni Eropa sebagai pusat dunia. Tapi yang menikmati perseturuan Jerman - Perancis justru Inggris yang terus menguasai dunia dengan semboyan Britain rules the Waves. 

Setelah dua kali perang dunia maka negarawan Eropa memaksa Jerman - Perancis bersatu dalam ekonomi pasar Eropa, cikal bakal Uni Eropa sekarang. Jadi kalau dua musuh bebuyutan sudah bisa berdagang saling menguntungkan maka perang bisa dihindari begitu lahirnya Uni Eropa 1957.

Persatuan Jerman - Perancis - Inggris dipicu oleh bangkitnya ideologi komunisme yang menguasai Uni Soviet sejak 1917, dan Eropa Timur serta Tiongkok sejak berakhirnya Perang Dunia II. Perang dingin ini segera mengambil alih situasi pasca perang dunia II. AS tampil sebagai cukong merangkap godfather, merangkap pula sebagai sherif/polisi dunia yang mengurasi dana sehingga defisit AS merebak.

Maka pada 1971 Nixon menyatakan penghentian penukaran Dolar AS dengan emas. Pada waktu itu 34 dolar AS bisa ditukar dengan 1 once emas. Nixon juga membuka kartu Tiongkok untuk menghadapi Uni Soviet. Tanpa perang, komunisme akan gulung tikar di Uni Soviet dan RRT/China yang ikut ekonomi pasar sejak 1979-1989.

China mengebut pembangunan ekonomi dan siap masuk WTO tahun 2000. Dengan konsentrasi penuh di ekonomi, China mendominasi perdagangan dunia termasuk dalam perdagangan bilateral AS - China dengan defisit total triliunan dolar AS. Sebetulnya dua raksasa ini sudah mirip kembar siam yang tidak bisa dipisahkan tanpa keduanya sama-sama terluka. Jadi kalau dua-duanya berperang dagang, maka pasti akan mempengaruhi pasar global. Tapi yang mampu mendamaikan adakah kedua raksasa itu sendiri, sedang negara lain seperti kita yang masih kecil perannya dalam perdagangan global karena peringkat kita masih kecil, ya harus lihai mewaspadai situasi perang dagang agar jangan sampai jadi “dagang perang”.

Yang ideal memang kita harus memperkuat ekonomi kita dan itu adalah masalah domestik untukmeningkatkan efisiensi, penurunan ICOR 6,4 agar daya saing kita naik dan kapabilitas ekspor kita meningkat sehingga bisa surplus devisa dan otomatis mata uang Rupiah menguat.

Semua itu tidak bisa pakai pidato, kampanye, slogan, hoax, fitnah dan selingkuh politik model pilkada "Al Maidah" dan pilkada rasa pilpres yang mau mengulangi pilgub DKI dan Sumut pada tingkat pilpres 2019.

Kalau pilpres 2019 jatuh ketangan model “Kabil” yang tidak menghargai meritokrasi, tapi hanya cemburu - benci iri kepada lawan politik berbasis SARA, maka Indonesia tidak akan kemana-mana kecuali berputar-putar dalam "fluktuasi dan frustrasi volatilitas kurs rupiah seumur hidup".

Semoga tidak demikian, kita harus mengubur “Kabilisme” dan menghargai meritokrasi kompetitif beradab-kreatif antar peradaban dan antar manusia secara sportif, ksatria, gentleman. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

FOLLOW US

Maskapai Asing, Investasi yang Buruk Bagi Ekonomi Nasional              Hilangnya Kompetisi di Pasar Penerbangan Domestik             Masalah pada Inefisiensi dan Pengkonsentrasian Pasar              SBY Harus Bisa Menenangkan              Lebih Baik Kongres 2020             Ketegasan SBY, Redakan Tensi Faksionalisasi             Langkah PKS di Oposisi Perlu Diapresiasi             Insentif Pajak, Daya Tarik Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei