BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Kepala Badan Standarisasi Nasional (BSN)
Peran Standardisasi Semakin Penting dalam Era Perubahan

Seperti mimpi ternyata dampak perkembangan teknologi khususnya bidang teknologi digital begitu cepat dan tanpa disadari telah mengawal dinamika perubahan yang tidak pernah kita duga. Mari kita cermati perjalananan teknologi digital dari penemuan bilangan biner ke perancangan mesin hitung dan komputer mekanik pertama memerlukan waktu 140-an tahun, kemudian 130 tahun kemudian diciptakan personal computer pertama, 15 tahun kemudian MS DOS (1981) dan Window 1.0 (1985) hadir dan dikembangkan perangkat lunak turunannya. Lima tahun berikutnya ditemukan teknologi WorldWideWeb (WWW) 1990 yang memungkinkan antar komputer terkoneksi sehingga memudahkan transfer data. Di awal tahun 2000 berkembanglah berbagai aplikasi social media  sepert FB, Twitter, Youtube dan lainnya. Pada 2010-an dikembangkan teknologi broad band mulai 3G, 4G.yang memungkinkan pengiriman big data lebih cepat seperti gambar, foto, animasi, video dan lain-lain melalui internet.

Dalam 2-3 tahun kedepan berbagai negara mengembangkan teknologi yang terkait 5G dan pemanfaatan teknologi artificial inteligence, maka dapat diperkirakan perubahan semakin dasyat mewarnai era digital. Bahkan Korsel pada 2019 akan me-launching teknologi 5G yang diaplikasikan ke hampir semua sektor kehidupan mulai kesehatan, transportasi, penghematan energi yang setara dengan 2 PLTN, pendidikan dan sebagainya. 

Perubahan pesat yang muncul dua dasawarsa ini terjadi hanya berskala 5 tahunan. Gambaran ini memaksa kita untuk lebih jeli di masa mendatang.  Himbauan terhadap tata kelola (leadership dan manajemen) jangan melakukan business as usual  tidak cukup, tetapi harus beyond, harus smart, dinamis dan visioner. Kita sudah tidak mungkin menghindar dan mau tidak mau harus siap menghadapi ini.

Untuk itu beberapa langkah secara masif harus disiapkan secara sistemik dan totalitas melibatkan seluruh komponen. Pertama, di tataran bisnis harus mampu melakukan perubahan-perubahan dan antisipasif. Kalau dulu planning business linear, sekarang harus dinamis dan sistemik yang ditandai dengan beberapa hal misalnya cross functional team, cross functional integrator, cross spacial value chain,multi aspect-continues improvement.

Kedua, regulasi pemerintah harus lebih antisipasif  terhadap dinamika di masyarakat. Jika ini dilakukan maka resikonya lebih kecil. Beberapa kebijakan responsif biasanya memerlukan ongkos sosial yang tidak murah, seperti transportasi on line, Di samping itu regulasi harus melihat aturan global yang sudah menjadi kesepakatan dunia, guna menghindari masalah di kemudian hari (contoh kasus-kasus regulasi Indonesia yang dipertanyakan di forum TBT WTO). Tidak kalah pentingnya adalah regulasi harus mengacu pada “good regulatory practise”  dan juga dilakukan RIA (Regulatory of Impact Analysis). Kurangnya koordinasi antar sektor harus bisa diselesaikan dengan inovatif, misalkan dengan membuat crisis center on line lintas kementerian.

Untuk mengantisipasi era disruptif ini, peran standardisasi semakin penting. Karena semakin cepat perubahan, semakin besar keragaman, semakin besar gap (pendidikan, mind set, kehidupan sosial-ekonomi) dan perubahan sumber daya (menciutnya sumber daya alam, kerusakan lingkungan, adanya ancaman-bencana alam dan lain-lain) maka peran standardisasi dapat menjadi piranti yang handal untuk memecahkan masalah tersebut. Standardisasi memberikan platform yang sama kepada dunia usaha dan sekaligus untuk memberikan perlindungan konsumen.

Di tataran masyarakat perlu dilakukan upaya pemahaman yang merata. intekoneksi mindset akan mendorong konsumen cerdas. Penyebaran konten melalui media sosial yang membangun mindset sangat diperlukan. Konsumen cerdas akan berkontribusi terhadap proses jual beli lebih sehat, ditandai dengan kecilnya kasus penipuan. Proses complain juga terlayani meski on line system. Di bandingkan Negara lain, posisi konsumen kita tergolong lemah. Sebaiknya konsumen ikut mendikte pasar dengan membuat asosiasi seperti dibeberapa Negara maju.

Di dunia riset dan tekonologi, diharapan juga tidak melakukan kegiatan business as usual. Perencanaan secara priodik dalam dunia riset dan teknologi harus siap juga mengantisipasi perkembangan yang terjadi, sehingga proses inovasi tidak terhenti ketika riset sudah selesai dilakukan.

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir