BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies
People Power and Power of Love

Kegamangan dan kegalauan demokrasi dan politik akan terjadi. Pihak 02 yakni Prabowo tetap mengklaim terjadi kecurangan, buntutnya tidak menandatangani hasil pilpres.

Bahaya jika penumpang gelap masuk misalkan diboncengi kaum radikal dan intoleran bahkan ISIS.

Kendati pengumuman hasil rekapitulasi KPU sudah usai, tapi bisa terjadi chaos. Memang dalam konteks pemilu kalau konteks menjatuhkan pemerintahan itulah makar. Tapi antara chaos politik dan makar menjadi dua bagian penting. 

Saya prediksi akan ada demo di basisnya Prabowo yaitu Makassar, Medan, Surabaya, bahkan Jakarta. Ingat! awal student power bahkan berimbas ke people power saat menjatuhkan presiden di mulai di kota-kota ini. Meski begitu, saya salut dengan kesiapan TNI/Polri dalam langkah preventif bahkan menangkalnya.

Kekuatan rakyat kerap salah diartikan. Harusnya rakyat jangan dijadikan tumbal politik demi political interest (kepentingan politik) dan political lust (nafsu politik). Setiap pemilu paling ada suatu kesalahan itu biasa  tapi bukan fatal. 

Tetap kalau salah melangkah people power bisa berubah jadi people's riots (kerusuhan rakyat). Memang demi kekuasaan rakyat harus jadi korbannya. Memang ada sisi negatif ada pula positif. Kalau pemimpin anarkis, diktator, atau otoriter yang tak berpihak pada rakyat barangkali beda. Tapi ini Presiden Jokowi cukup berpihak pada rakyat lewat program-programnya, contoh dana desa dan sertifikat gratis.

Kejadian people power pernah terjadi di Amerika Serikat (AS) saat Hillary Clinton dari Partai Demokrat kalah dari rivalnya Donald Trump pada president election AS 2106 lalu.

Dengan dimotori George Soros, sempat demonstran turun di sejumlah sanctuary city yakni Chicago, San Fransisco, Philadelpia, New York tapi hanya dalam bentuk protes tanpa merusak.

Sikap legowo penting dilakukan, pasalnya dalam sebuah perlombaan ada menang ada kalah. Tetap saja kalau seri atau imbang maka ada additional time atau tambahan waktu. Bagi saya masyarakat jangan mau di adu domba atau dhasut oleh oknum-oknum yang tak mau ada damai.

Freedom of speech (kekebasan berpendapat) tak dilarang karena dijamin oleh Undang-undang, tapi yang salah jika sudah berubah ke arah overabudance of speech (kebablasan berpendapat).

Ini bisa digunakan kelompok tertentu untuk merusak bahkan menjarah. Ini perlu diantisipasi.

Saat ini pentingnya the power of love. Karena hal ini mampu meredam people power. Love dari kata L= Listen (dengar), O = Overlook, V= Voice (Bersuara) dan E= Effort (Berusaha).

Masih ingat lagu yang dipopulerkan oleh Celine Dion yang bertitel The Power of Love, di mana kekuatan cinta bisa mengubah segalanya. Cinta kasih manusia sangat penting dalam meredam people power.

Untuk itu, pentingnya pengendalian diri. Ini tinggal tergantung dari Prabowo. Pengikutnya tinggal ikut komando sang capres. Saya yakin Prabowo seorang ksatria dan negarawan, mau menerima kekalahan. Ini penting agar tak akan berlarut-larut. 

Kalau tidak puas terhadap hasil pilpres, maka untuk itu ada Mahkamah Konstitusi (MK). Silahkan bawa perkara serta pelanggaran Pemilu di MK dengan bukti yang kuat. Jangan kerahkan massa. Karena ada banyak juga yang trauma seperti kejadian Mei 1998 silam. (mry)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Karyono Wibowo

Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

FOLLOW US

Kapan Merdeka dari KUHP Peninggalan Belanda?             Bangsa Parasit             Tinjau Kembali Politik Pangan             Semantik Munafik Lunatik Kembali Otentik              Indonesia Kehilangan Arah dan Tujuan             74 Tahun RI: Kedaulatan Sebagai Slogan Politik              Perlu Mekanisme Seleksi Khusus             Ketahanan Pangan Indonesia Masih Rapuh             Persoalan Ada Pada Tingkat Konsumsi             Kedaulatan Pangan Didukung Pola Makan dan Perilaku Konsumsi Pangan