BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Kepala Pusat Studi Hukum FH UII
Penyakit Pragmatisme Politik

Sebenarnya, yang terjadi di elite-elite kita saat ini adalah penyakit pragmatisme politik. Bahasa yang mereka sering katakan: ini (parpol) sebagai alat perjuang. Tapi apa yang mereka lakukan itu bukan perjuangan ideologis. Kalau mereka bicara perjuangan ideologis, ada suatu partai yang mengemban garis perjuangan ideologi tertentu dan konsisten di garis perjuangan itu.

Problem munculnya kutu loncat, di satu sisi, politisinya memang punya pikiran pragmatis. Di sisi yang lain, partai politiknya punya paradigma pragmatis juga karena tidak menunjukan label ideologisnya.

Banyak yang mengatakan, parpol adalah kendaraan untuk meraih kekuasaan. Secara fitrahnya, parpol memang begitu. Di negara demokrasi manapun, sebuah keniscayaan untuk membentuk partai kalau mau merebut kekuasaan.

Tapi problemnya adalah, apakah partai politik sebagai kendaraan politik di tempatkan sebagai alat perjuangan ideologi tertentu? Atau, hanya sekedar syahwat untuk meraih kekuasaan? Menurut saya, yang terjadi di Indonesia saat ini adalah parpol sebagai kendaraan untuk memuaskan syahwat.

Jadi, ketika kepentingan yang bersangkutan (kutu loncat) di partai tertentu tidak terakomodir dengan berbagai macam sebab, kemudian dengan mudah dia pindah parpol. Kalau diibaratkan dengan sebuah perkawinan, itu namanya kan gonta-ganti pasangan. Di mana secara etika, gonta-ganti pasangan kurang pas. Apalagi, jika alasan ganti pasangan hanya karena tidak puas terhadap pasangannya.

Kalau kita mencari kepuasan di partai politik, ya, mestinya tanggung jawab dia untuk menjadikan parpol sesuai dengan harapan dan cita-citanya. Artinya, ketika parpol tidak sesuai dengan cita-citanya, bukan berarti tidak begitu saja pindah parpol.

Terkait pertanyaan, apakah fenomena kutu loncat ini merupakan hal yang tidak bisa dihindari dari sistem multi-partai ini? Konsekuensi sistem multi-partai yang kita terapkan sekarang memang memunculkan partai-partai dengan warna ideologi yang tidak jelas.

Ada sebuah partai yang mengatakan, kami adalah partai nasionalis. Tapi garis perjuangan dan program-programnya mendukung juga aktifitas-aktifitas kepentingan masyarakat, misalnya, kelompok agama atau etnis tertentu. Ada juga partai yang mengatakan, kami adalah partai agama. Tapi garis perjuangannya juga tidak melulu memperjuangkan kelompok agama tertentu.

Sekali lagi, banyaknya partai ini memunculkan ideologi partai yang tidak jelas. Karena saking banyaknya, kemudian mereka bingung mencari jadi diri sebagai partai apa. Karena bingung mencari jadi diri itulah kemudian menjadi lahan subur bagi “petualang politik” untuk melampiaskan syahwatnya.

Habis dari partai A, bisa ke partai B. Toh, antara partai A dan B tersebut tidak ada bedanya. Ini yang berada dipikiran para petualang politik tersebut.

Tujuan utamanya bergabung dengan parpol adalah tujuan pribadi atau syahwat individu. Sementara baju (parpol) ibarat kendaraan. Kita bisa menggunakan kendaraan apapun untuk berangkat dari satu titik ke titik yang lain. Kalau mau cepat, ya naik pesawat. Tapi kalau rela lambat, ya, naik kendaraan darat.

Saya melihatnya, partai politik juga dianggap seperti itu oleh elite partai. Kalau mau cepat naik, mereka bakal bergabung dengan partai yang sedang berkuasa.

Lalu, apa yang akan di cari oleh kutu loncat? Hanya baju (parpol), tujuannya tetap: syahwat politik. (mry)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Anang Zubaidy, SH., MH

Kepala Pusat Studi Hukum FH UII

Deddy Herlambang

Pengamat Transportasi

FOLLOW US

KPU Jangan Perkeruh Suasana             Gunakan Mekanisme Demokratik             Pemerintah Harus Bebas dari Intervensi Pengusaha             Tunggu, Mas             Yang Tak Siap Menang Cuma Elit Politik, Rakyat Tenang Saja             Ikhtiar Berat Tegakan Integritas Pemilu             Kedaulatan Rakyat Dibayang-bayangi Money Politics             Tiap Orang Punya Peran Awasi Pemilu             Jangan Lecehkan Kedaulatan Rakyat             Selesaikan Dulu Sengkarut Harga Tiket Pesawat