BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dekan Fakultas Pertanian UGM
Penting, Sosialisasi Varietas yang Dikembangkan

Mestinya siapapun boleh melakukan inovasi dan itu terbuka saja. Lain halnya kalau teman-teman yang setiap hari melakukan usaha tani bisa mengamati langsung dan juga memilah atau menyilangkan dan seterusnya.

Yang dibutuhkan sebetulnya standarisasi varietas-varietas yang ada, apalagi varietas lokal. Bagaimana kemudian jika ada petani kreatif dan melakukan inovasi bibit padi seperti di Aceh itu kemudian ingin mengangkat dan melepas ke pasaran semestinya oleh pemerintah daerah itu sendiri yang mendukung.

Petani yang kreatif seperti itu seharusnya didampingi saja. Bisa didampingi oleh ilmuwan dari Perguruan Tinggi setempat. Kampus-kampus bisa dimintakan perannya untuk mendampingi petani-petani seperti itu.

Kalau soal pelepasan dan seterusnya kami juga banyak contoh dimana pemerintah daerah kemudian melepas varietas yang dimaksud. Jadi bisa didampingi oleh Pemda dan juga oleh Perguruan Tinggi.

Kalau pemulia, maka bisa jadi petani tersebut juga dilibatkan. Petani plus pemulia bisa melepas inovasinya ke pasar. Jadi jalan keluar agar para petani kreatif harus duduk berdampingan saja dengan para pemulia tanaman.

Kalau soal koleksi plasma nutfah yang dipersoalkan, hal itu sebenarnya masing-masing plasma punya “ketua” masing-masing atau F0 nya pasti ada.

Setiap varietas yang akan dilepas harus punya sejarah atau silsilah yang jelas. Silsilah nya memang harus disebutkan. Jadi yang perlu dicomply terhadap pelepasan varietas adalah bagaimana supaya silsilahnya terlihat dan tercatat dengan baik.

Turunan dari varietas itu jelas keterangannya, dari mana asalnya dan siapa yang mengoleksinya. Juga, “ketua” nya itu pernah dilepas oleh pihak lain ataukah belum. Semua memang mengambil dari alam, tapi sekarang sudah semakin terdeteksi koleksi plasma nutfah.

Bisa jadi mungkin ada pihak yang melepas sebelumnya, entah yang melepas perusahaan, Pemda, atau PerguruanTinggi, atapun Badan Penelitian. Yang penting ada sejarah dari varietas itu yang bisa ditelusuri.

Oleh karenanya teman-teman para pemerhati dan pelaku inovasi memang harus lebih care terhadap asal muasal ataupun silsilah dari persilangan tersebut.

Selama ini sebenarnya juga kurang sosialisasi saja karena masyarakat atau petani kreatif yang berhasil mengembangkan sendiri varietas padi unggul, harus mendapat pendampingan dari Perguruan Tinggi dan Pemda setempat. Agar dapat tertelusuri asal varietas tersebut, dan seterusnya.

Apalagi jika inovasi tersebut kemudian hendak dilepas ke pasaran, tentunya butuh backup dari ilmuwan dan pemda setempat. Tidak masalah jika menyilangkan jenis yang pernah disilangkan pihak lain, karena nantinya akan memunculkan varietas atau jenis baru.

Jika tidak ada pendampingan dari pihak kompeten, maka dikuatirkan akan dianggap sebagai karya plagiat. Padahal karya petani tersebut bukanlah plagiasi tapi melepas varietas yang sudah pernah dilepas sebelumnya.

Butuh pendampingan karena memang banyak petani yang belum memahami silsilah tersebut. Kalau pihak Perguruan Tinggi sangat siap untuk melakukan pendampingan.

Petani yang terkena kasus hukum kemungkinan karena ada pihak yang merasa dirugikan akibat beredarnya jenis atau varietas yang sudah pernah dilepas oleh pihak tersebut. Lain bila adanya pendampingan yang bisa ditelusuri asal usul dari varietas tersebut. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)