BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti INDEF (Institute for Development of Economics and Finance)
Peningkatan Ekspor Tetap Perlu

Saya tidak sependapat jika disebutkan adanya keseimbangan baru terhadap mata uang rupiah pada level Rp15.000 per dolar AS. Jika dilihat lagi dari data-data fundamental kita nilai rupiah semestinya tidak diangka Rp15.000. Hal ini adalah gejolak eksternal/global—meskipun ada juga sisi internal-tapi pemicunya sebetulnya ada 3 hal yang paling besar pengaruhnya yakni pertama, harga minyak bumi yang sudah mencapi 85 dolar AS per barel, sebelumnya kedua, terjadinya perang dagang Amerika Serikat – China, ketiga, Fed Fund Rate (FFR) yang mulai price in.

Dunia internasional juga sudah memperkirakan bahw efek FFR akan lebih landai, tetapi kemudian selalu muncul hal yang baru di gejolak ekonomi global yang membuat rupiah tetap tertekan, yaitu 3 faktor di atas.

Untuk tahun depan, ke 3 hal tersebut juga akan tetap membayangi. Perang dagang sendiri saat ini sudah semakin panas. Di AS sendiri ada survei yang dinamakan policy uncertainty index atau indeks ketidakpastian kebijakan di AS. Publik AS sendiri memilih ketidakpastian perang dagag AS-China sebagai faktor ketidakpastian yang paling besar.

Kebijakan-kebijakan perdagangan Trump telah menyebabkan kondisi ekonomi global menjadi tidak pasti yang berimplikasi kepada capital flight dan spekulasi yang terjadi di negara-negara berkembang.

Perkembangan terbaru adalah tentang harga minyak bumi yang terkait geopolitik dari berbagai macam rencana negara-negara penghasil minyak yang membuat harga minyak bumi terus naik.

Dengan ketiga hal berpengaruh di atas saat ini jadi faktor paling dominan dalam pergerakan mata uang dunia. Bagi rupiah, jika kita tidak berhati-hati apalagi dengan adanya defisit current account kita yang melebar tentu memang kemungkinan akan terdepresiasi lagi masih ada.

Karena disaat yang sama kemampuan kita untuk meningkatkan ekspor juga kurang. Kalau dulu kita menumpuk cadangan devisa sampai 132 miliar dolar AS itu bukan dari aspek yang sangat fundamental. Ketika itu lebih pada banyaknya modal  yang masuk karena Indonesia mulai dipercaya, namun di sisi lain perekonomian Amerika serikat sedang lemah sehingga modal kemudian banyak masuk ke Indonesia. Inflow-nya ketika itu sebetulnya arus masuk yang harus diwaspadai. Sampai-sampai ada isu bahwa BI khawatir dengan utang swasta karena inflow-nya begitu deras sehingga rupiahnya juga sangat stabil.

Tapi persoalan yang terjadi sekarang adalah AS nya mulai ‘membaik’ membaiknya juga masih banyak yang meragukan apakah tahun depan juga masih membaik atau tidak--tetapi yang namanya portofolio investment selalu melihat progress perekonomian negara yang disinggahi. Jika dilihat memburuk, maka investor itu akan hengkang ke negara yang lebih menjanjikan. Problemnya di situ.

Ihwal keseimbangan baru rupiah ini seharusnya kita mengejar target di angka Rp14,500 per dolar AS sesuai dengan APBN. Walaupun sekarang angkanya Rp15,000 per dolar AS. Tapi itu karena BI juga tidak ditargetkan nilai tukar rupiah, seharusnya lebih pada pendekatan fiskalnya bagaimana menggenjot ekspor atau menarik devisa yang lain seperti pariwisata atau lainnya, misalnya. Untuk program biodiesel B20 ada masalah pada implementasi nampaknya.

Jadi rangkaian kebijakannya harus diutamakan untuk mendorong ekspor, walau ada situasi perang dagang, tapi tidak ada cara lain. Kalau tidak mendorong ekspor maka devisa akan terus tergerus dan hal itu jadi agak memberatkan.

Untuk pembukaan pasar baru saya lihat juga belum ada hasil signifikan, lagipula persentasenya kecil. Kalau menurut saya sekarang harus lebih optimal bagaimana merawat dan mengembangkan pasar yang ada. Kalahnya kita sebenarnya lebih pada faktor non teknis yang bukan pada produk tapi pada kemampuan diplomasi bernegosiasi di pasar CPO contohnya, yang kita gagal menjelaskan ketika ada isu lingkungan, tarif dan sebagainya. Hal-hal itu membutuhkan kelihaian tersendiri dalam menjelaskan di captive market kita. Hal itu pula membutuhkan perbaikan pada sisi diplomasi dagang Indonesia. Terlebih Indonesia adalah negara besar dalam konteks ekspor komoditas yang seharusnya lebih proaktif melihat jika ada tanda-tanda akan dihambat di negara tertentu padahal penting untuk menghasilkan devisa maka harus segera mencarikan solusinya.

Terkait nilai tukar yang melemah lalu dikatakan tidak berdampak ke sektor riil, itu menurut saya tidak logis. Karena, mungkin saat ini mereka masih ada stock. Tapi jika depresiasi terjadi terus menerus sampai akhir tahun maka lama-lama sektor riil akan terkena dampak. Sekarang saja sudah mulai berdampak. Misalnya industri penerbangan, itu sebentar lagi mungkin akan terkena dampak pelemahan kurs. BBM pesawat dan suku cadangnya juga akan menjadi lebih mahal. Juga elektronik yang harganya mulai merangkak naik. Kalau BI hanya mengarah kepada indeks tendensi bisnis semua pengusaha ketika ditanya ke depan bagaimana, pasti akan tetap menyebut masih optimis. Tapi sebetulnya kita harus melihat realitas yang terjadi di masyarakat atau industri seperti apa. Itu intinya. Industri saja saat ini tumbuh di bawah 4 persen. Itu gambaran betapa faktor rupiah menjadi sangat penting. (pso)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Robin, S.Pi., M.Si.

Dosen Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Kandidat Doktor IPB, Tenaga Ahli Komisi IV DPR-RI

FOLLOW US

Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik