BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Kepala Badan Standarisasi Nasional (BSN)
Penguatan UMKM Perlukan Grand Strategi dan Pendampingan Smart

Tidak dipungkiri, UMKM mempunyai  nilai strategis  ditinjau dari berbagai  hal, misalnya dalam penyerapan tenaga kerja, mempunyai ketahanan yang luar biasa terhadap berbagai guncangan ekonomi dunia, dan sejauh ini penyumbang PDB cukup besar. Namun kinerja UMKM di Indonesia  masih jauh  dibandingan dengan Thailand, Malaysia, bahkan Vietnam.

Lebih memprihatinkan lagi, ketika  di era bisnis daring UMKM kita hanya mampu di bawah 10 persen di marketplace, semuanya harus diisi barang impor. Di balik permasalahan tersebut  saya melihat potensi besar yang pengembangannya memerlukan strategi yang lebih komprehensif.

Maraknya bisnis daring membuka peluang  besar. Di Subang, Jawa barat, seorang baru lulus sarjana memperkerjakan hingga 30 orang penjahit dengan memasarkan produk gamis secara online ke berbagai kota. Promosi yang dilakukan hanya melalui Instagram.  Satu lagi Surabaya, dalam sebuah pameran, industri rumahan pembuat sepatu wanita bisa ekspor ke Eropa Timur melalui bisnis online. Pola serupa  sangat banyak ditemui, khususnya produk kuliner dan konveksi.  Tentunya ke depan pangsa pasar ini tidak terbatas di kuliner yang tidak tahan lama, tetapi dilebarkan ke produk kerajinan dan produk kreatif lainnya.

Saya sangat yakin keragaman jenis produk UMKM yang potensial dapat digandakan berlipat-lipat sesuai dengan hasil perkalian kombinasi antara kearifan lokal, potensi keragaman sumber daya alam , potensi kreatifitas SDM, dan pengetahuan yang mudah didapat dari dunia maya.

Kemarahan Presiden Jokowi dapat dijadikan momentum untuk membenahi UMKM yang berpotensi ekspor dan mengisi pasar dalam negeri. Hal ini sebenarnya sudah lama ditunggu karena di lapangan banyak permasalahan dijumpai.

Kita belum mempunyai grand strategy lintas sektoral dengan tahapan skematis yang aplikabel. Menurut saya yang perlu dibenahi adalah UMK (mikro dan kecil), sedangkan untuk usaha menengah fokus pembinaannya lebih pada iklim bisnis. Sebaliknya, UMK masih perlu pembinaan mulai dari yang paling mendasar yaitu perubahan mind set.

Berbicara pembinaan, sebenarnya telah banyak kementerian yang menangani UMK/IKM, hampir seluruh kementerian teknis, lembaga pemerintah dan juga pemerintah daerah, juga perusahaan besar BUMN melalui CSR mempunyai program UMKM/IKM. Namun di sana sini masih belum maksimal. Banyak kita jumpai pendekatan yang dilakukan sangat berorenasi pada “keproyek”an, dan tidak dipantau pasca proyek, sehingga terkesan habis proyek selesai ya kembali ke awal. Di sisi lain banyak juga terjadi tumpang tindih dalam mengelontorkan dana maupun kegiatan. Yang lebih penting lagi adalah tidak ada pemantauan secara berkelanjutan terhadap binaan UMK.

Berangkat dari permasalahan ini, sangat diyakini konsep pengembangan role model mendampingi dan memonitor UMK sampai sukses, kemudian setelah itu bagi UMK yang sukses harus mau berbagi kepada UMK  yang lain. Pendekatan ini berjalan sangat efektif karena proses  menginspirasi dan belajar langsung dari UMK yang sukses. Beberapa role model, misalnya CV KANABA (bengkel pembuat mesin-mesin laundry) di Bantul mampu dalam 3 tahun dari keuntungan di bawah Rp100 juta dapat melompat ke angka diatas Rp2 miliar per tahun. Bahkan saat ini sedang merintis ekspor ke negara-negara di  Asean. Industri kecil pembuat amplang di Balik papan mampu masuk ke pasar ritel besar. Untuk menjamin suplai pasokan, kapasitas harus ditingkatkan dan untuk itu mereka bisa membentuk kluster produksi bersama UKM yang lain. Kedua contoh di atas memang peran standardisasi merupakan  salah satu kunci yaitu  dengan menerapkan standar SNI IEC, SNI produk, dan SNI ISO sistem manajemen.

Banyak contoh lain yang dengan menerapkan SNI sistem managemen mereka dapat menurunkan biaya produksi  atau meningkatkan kapasitas produksi seperti pada role model PT Astoetik Jogya dan Batik Satrio Banyuwangi. Belakangan ini harus dikembangkan SNI proses untuk melawan black campain dari USA tentang kopi luwak. SNI proses adalah standar yang tidak bicara spesifikasi saja, tetapi juga bicara gambaran proses  dalam memproduksi barang seperti pangan organik.  Produk UMK sangat berpeluang menembus pasar, meningkatkan efisiensi dan meningkatkan daya saing. Untuk itu diperlukan  rencana besar yang terkoordinir secara nasional, paling tidak satu komando. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir