BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)
Penguatan Rupiah Untuk Peningkatan Sektor Riil

Terkait penguatan rupiah dimana banyak mata uang dolar AS masuk melalui instrumen SBN, hal itu merupakan cara yang instan untuk mendapatkan dolar AS. Memang tidak mudah jika misalnya investor asing tidak percaya. Dengan bunga SBN yang cukup tinggi, hal itu menjadi daya tarik tersendiri bagi investor asing untuk menanamkan investasi portofolionya di Indonesia.

Impact-nya memang jangka pendek bagi penguatan rupiah. Namun, kalau hasil “utangan” ini tidak bisa dikelola dengan baik untuk meningkatkan hal-hal produktif seperti menggairahkan kembali sektor riil, iklim usaha makin kondusif dan juga meningkatkan investasi direct dan juga pertumbuhan kredit, maka investasi portofolio itu akan menjadi percuma.

Jumlah perolehan penjualan surat berharga yang sekian puluh triliun itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kebangkitan kembali sektor riil. Karena bagaimanapun juga, cara untuk mendapatkan dolar AS yang baik dan sehat adalah dengan melakukan ekspor. Baik ekspor barang maupun jasa.

Pertanyaannya, kalau tidak ada produk barang yang berdaya saing untuk dieskspor, lalu apa yang akan diekspor?  

Oleh karenanya harus dibuat dulu produk-produk manufaktur yang berdaya saing. Untuk membangun produk manufaktur yang kompetitif dibutuhkan iklim usaha yang kondusif. Masalah-masalah yang selama ini menjadi penghambat bagi pertumbuhan industri harus dihilangkan terlebih dahulu.

Akan sangat percuma jika perolehan dari portofolio investment ini tidak bisa dimanfaatkan alias percuma, bahkan akan kembali menjadi beban perekonomian karena otomatis utang harus dibayar dan bunga pinjaman akan makin besar. Jika itu yang terjadi maka nilai rupiah bisa jadi akan melorot lagi.

Untuk upaya jangka pendek, penerbitan SBN itu memang relevan dilakukan, tapi jangan lupa setelah ini “PR” nya lebih berat. Yakni bagaimana bisa meningkatkan sektor riil supaya dapat menghasilkan devisa yang lebih sustain.

Selain ekspor barang maupun jasa, sektor pariwisata (ecowisata) juga menjadi salahsatu prospek yang harus ditingkatkan. Tinggal lagi sekarang bagaimana destinasi-destinasi wisata yang ada ditingkatkan pengelolaannya agar bisa menarik wisatawan mancanegara ke Indonesia, yang otomatis akan mendatangkan devisa.

Sebaiknya mulai diidentifikasi sektor-sektor apa saja yang bisa menghasilkan devisa dan harus segera digarap serius agar dapat didayagunakan untuk mendapatkan pemasukan negara.

Kita tidak bisa terus menerus mengandalkan investasi portofolio dengan bunga yang tinggi karena akan punya konsekwensi tersendiri dalam jangka menengah dan jangka panjang.

Kenaikan nilai rupiah memang diharapkan bisa meningkatkan pertumbuhan investasi dan kredit, tetapi memang, di tengah kebijakan sukubunga yang tinggi 6 persen seperti sekarang, sebaiknya ada skema-skema khusus yang dibangun untuk mendorong gairah berusaha dan berinvestasi bagi pelaku usaha. Itu bisa dilakukan misalnya dengan memberikan insentif fiskal dan insentif ekspor untuk kredit investasi dan modal kerja sektor manufaktur. Juga  dengan memberikan subsidi bunga kepada debitur dalam rangka meningkatkan ekspor. Atau insentif-insentif fiskal lainnya yang bisa membantu sektor riil secara umum agar industri kita bisa menghasilkan produk-produk yang berdaya saing. (pso)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Inovasi Kebijakan yang Tidak Menjual             Kebijakan Tergantung Tujuan Awalnya             Kebaya Tak Perlu Dipertanyakan             Penggalian Nilai Budaya Dibalik Kebaya             Berkebaya Adalah Kesadaran             Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?             Kebutuhan Gas Dalam Negeri Harus Diutamakan