BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Budaya
Penggalian Nilai Budaya Dibalik Kebaya

Gerakan Indonesia berkebaya merupakan reaksi terhadap maraknya jilbabisasi esktrim. Ada yang secara jelas menyatakan bahwa ini merupakan perlawanan terhadap dominasi jilbab yang mencapai tahap cadar. Hal ini dikhawatirkan menghilangkan budaya bangsa. Padahal semua ini bisa saja hanya cyber war, misalnya di medsos ada yang menyebarkan foto-foto suatu sekolah di Indonesia yang seluruh siswinya menggunakan cadar hitam. Nah, ini menghilangkan ciri individu dan ciri budaya lokal. Harus diakui cadar apabila menjadi gerakan ekstrim bisa menghilangkan banyak hal, termasuk warisan budaya. Walaupun kadang warisan budaya ini sering dijadikan sebagai dalih reaksi saja.

Pada zaman orde baru, Kebaya ini lekat dengan kepentingan non kultural. Misalnya pada tahun 70-an dianggap terlalu kebarat-baratan, seperti rok mini. Nah, saat ini dianggap terlalu kearab-araban. Kebaya menjadi gerakan yang memiliki muatan politis walaupun wilayahnya kultural. Begitu juga saat ini, aksi reaksi tidak memiliki akar yang dalam dan sekedar tren.

Seharunya pemakaian kebaya menjadi hal yang substansial, bukan hanya sekedar reaksi namun juga menggali nilai budaya yang terdapat didalamnya. Menarik pada tahun 45-an, dimana perempuan Indonesia pakaian kesehariannya menggunakan rok dan seakan tertekan menggunakan rok yang dahulunya memakai kebaya, ada pergeseran kultural. Pakaian kebaya menjadi sesuai yang tradisional. Padahal sebelumnya di Batavia, kebaya menjadi pakaian sehari-hari. Arus pergeseran ini menimbulkan pandangan bahwa pemakaian kebaya itu merepotkan karena bawahannya harus menggunakan kain jarik.

Seringkali pakaian barat yang dibawa kolonial, memiliki nilai-nilai konservatif Kristen dimana pakaian harus tertutup dan panjang. Sementara di Indonesia perempuan harus menyesuaikan karena terbiasa dengan kain jarik, kebaya dan kemben. Hal ini dianggap menjadi revolusi pakaian sehari-hari karena lebih ringkas dan praktis.

Gerakan menggunakan kebaya untuk kegiatan sehari-hari lebih menarik. Karena selama ini kebaya hanya digunakan untuk agenda resmi bukan kegiatan sehai-hari. Sebaiknya kebaya ini menjadi pakaian formil karena saat ini sudah tidak terlalu menghalangi, misalnya bisa mengkombinasikan kebaya dengan celana, rok yang lebih ringkas dan bisa dipadu-padankan dengan jilbab, tidak ada salahnya. Jadi bukan membenturkan jilbab dengan kebaya.

Terpenting sebenarnya penggalian nilai-nilai budaya dibalik kebaya ini. Jadi yang perlu diantisipasi adalah gerakan penggunaan cadar, bukan jilbab sebab cenderung menghilangkan keragaman. Kebijakan pembatasan penggunaan cadar/niqab perlu dipertimbangkan, bukan penggunaan jilbab. Untuk kebaya sendiri perlu didorong industri kebaya agar lebih maju bahkan untuk ekspor ke luar negeri. (yed)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir