BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Staf Pengajar Universitas Indonesia
Pengelolaan Utang: Apakah Efektif dan Efisien?

Pentingnya peran utang dalam pembangunan Indonesia semakin terlihat dalam lima tahun terakhir, baik dari sisi jumlahnya yang terus meningkat secara absolut maupun dari sisi rasio utang terhadap PDB yang saat ini mencapai sekitar 30 persen. Rasio tersebut masih “aman” menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia yang membolehkan sampai tingkat rasio 60 persen.

Namun yang jauh lebih penting adalah penggunaan utang tersebut apakah efektif dan efisien? Pengukuran kinerja utang “apakah efektif dan efisien” menjadi sangat penting, karena yang berutang adalah generasi saat ini sedangkan yang membayar utang tersebut adalah seluruh rakyat Indonesia saat ini dan generasi mendatang.

Argumen bahwa utang “efektif” seringkali dilakukan dengan mengatasnamakan tujuan kemakmuran rakyat. Komposisi pinjaman luar negeri pada triwulan III – 2018 berdasarkan publikasi Bappenas tentang Laporan Kinerja Pelaksanaan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri terutama untuk infrastruktur (51 persen), pertahanan dan keamanan (22,1 persen), energi (15,4 persen), Pendidikan (5,1 persen) dan lain-lain (6,5 persen).

Namun utang luar negeri tersebut ternyata masih rendah efisiensinya bila dilihat dari data penarikan pinjaman luar negeri dalam publikasi Bappenas Triwulan III-2018 tersebut, yaitu secara rata-rata hanya 49,1 persen. Sedangkan data sektoral penarikan pinjaman luar negeri tersebut bervariasi, yang terendah adalah sektor lain-lain 39,2 persen,  kemudiaan diikuti oleh sektor infrastruktur 46,1 persen, pertahanan dan keamanan 48,9 persen, energi 61,3 persen dan pendidikan 67,2 persen.

Laporan Bank Dunia pertengahan 2018 yang lalu tentang lemahnya pelaksanaan pembangunan infrastruktur di Indonesia  juga dapat memberikan gambaran masih rendahnya efektivitas dan efisiensi dari penggunaan utang luar negeri untuk infrastruktur. Hal ini disebabkan oleh kelemahan di sisi perencanaan dan pelaksanaan yang berakibat pada biaya tinggi maupun tingginya tingkat kecelakaan kerja di bidang pembangunan infrastruktur jika dibandingkan periode sebelumnya.

Diskusi terbuka di berbagai media tentang biaya pembangunan LRT yang menurut Wapres Jusuf Kalla mencapai Rp500 miliar per kilometer, telah memberikan gambaran borosnya biaya pembangunan infrastruktur yang menjadi beban utang rakyat Indonesia. Hal ini diperburuk pula dengan temuan KPK tentang adanya berbagai proyek fiktif di BUMN infrastruktur maupun Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang terkait dengan lemahnya birokrasi yang mengelola berbagai proyek yang dibiayai utang tersebut.

Karena terbatasnya data publik antarsektor maka analisis tentang utang luar negeri secara sektoral juga bervariasi. Jelas lebih sulit untuk menilai kinerja utang luar negeri sektor pertahanan dan keamanan dibandingkan sektor lainnya, karena sangat terbatasnya data yang tersedia secara publik di sektor ini.

Utang domestik yang berasal dari pasar uang memang lebih mudah diperoleh dibandingkan dengan utang luar negeri. Namun biaya utang domestik, yaitu bunga, pada umumnya lebih tinggi dibandingkan pinjaman luar negeri dan tentu akan menjadi peningkatan beban bagi APBN.

Jelas bahwa rakyat berhak mendapatkan gambaran lengkap tentang efektivitas dan efisiensi utang  secara sektoral dan rinci karena telah menjadi tanggung jawab bersama generasi kini dan mendatang bangsa Indonesia untuk membayarnya. (sar)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Insentif Pajak, Daya Tarik Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan