BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Advokat, Dosen Hukum Tata Negara FH-UKI
Penetrasi Budaya Ancam NKRI

Angin perubahan Reformasi ditandai dengan kebebasan pers, kebebasan berpendapat, dan kebebasan politik dengan munculnya berbagai partai politik. Selain itu, TNI mengalami proses reformasi internal yang signifikan. Di antaranya adalah perubahan doktrin "Catur" menjadi "Tri" setelah terpisahnya POLRI dari ABRI sesuai dengan Ketetapan MPR nomorVI/MPR/2000 tentang pemisahan TNI dan POLRI.

Kebebasan mendorong kemajuan dalam teknologi, terlihat dari munculnya berbagai media online yang mewarnai kehidupan sosial masyarakat. Kebebasan ini membutuhkan kecerdasan atau pendidikan untuk dapat menerima setiap informasi. Kalau di negara-negara maju, orang dalam menerima berita, pada waktu itu juga melakukan verifikasi kebenarannya. Berbeda dengan masyarakat kita, yang tingkat pendidikan masih belum merata, mempunyai kesulitan untuk melakukan verifikasi informasi. Terlebih lagi sistem Informasi kita di tingkat pemerintahan sampai daerah keadaan masih belum baik.

Contoh Amerika Serikat, ketika seorang calon presiden diisukan dia bukan beragama Protestan, masyarakat langsung bisa searching, benar tidak seseorang calon presiden atau senator itu agamanya Protestan atau Katolik. Dari data kependudukan dapat diketahui apakah agama seseorang. Nah, di Indonesia sampai hari ini kesulitan bagaimana memverifikasi kebenaran dari sebuah informasi. Bahkan kita pun, yang berpendidikan, butuh waktu memverifikasi kebenaran berita tesebut.

Pengaruh asing melalui penetrasi budaya saat ini telah menggeser nilai-nilai kearifan lokal yang diwarisi nenek moyang kita."Kekuatan-kekuatan (Barat, China dan Timur Tengah) semua memainkan memainkan kepentingannya masing-masing di Indonesia". Oleh karena itu pemerintah dan masyarakat harus cerdas dalam memaknai penetrasi budaya tersebut. Jadi edukasinya harus diperbaiki. Proxy war itu, salah satu yang paling berbahaya, adalah penetrasi budaya.

Seharusnya pemerintah dan masyarakat mengambil keuntungan dari globalisasi dan penetrasi budaya, bukannya terlibat dalam kepentingan kekuatan-kekuatan besar dunia. Alangkah naifnya kalau sampai Indonesia menjadi tempat pertempuran kepentingan asing.

Pada masa Bung Karno dulu, kita memanfaatkan konflik Timur dan Barat. BK menggunakan mereka untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Mendapatkan senjata dari Uni Soviet dan merebut Irian Barat dengan memaksa Belanda untuk pergi meninggal Papua melalui tangan Amerika. Mengapa hal ini tidak kita lakukan saat ini?

Kecerdasan itu bukan hanya inteligensia, namun juga kecerdasan emosional dan spiritual. Pemimpin yang cerdas tidak berpikir untuk kepentingan kelompoknya atau pribadi, tapi berpikir tentang kepentingan kemaslahatan orang banyak. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI