BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII)
Pendidikan SMK dan Vokasi Berbasis Man Power Planning (MPP)

Beberapa tahun ini pendidikan vokasi dalam rangka meningkatkan kompetensi lulusan SMK bertambah secara signifikan. Meskipun demikian, keberadaan pendidikan vokasi ini tidak terlalu signifikan dalam mengatasi masalah ketenagakerjaan, terutama masalah pengangguran. Selain karena banyak perusahaan yang mengalami penurunan kinerja yang berakibat rasionalisasi tenaga kerja, juga lapangan kerja yang disediakan pemerintah secara masif tidak "match" dengan ketersediaan lulusan pendidikan vokasi. Pemerintah fokus pada pembangunan infrastruktur, sementara hanya sedikit SMK dan pendidikan vokasi dalam bidang infrastruktur. Akibatnya lapangan kerja yang masif di bidang infrastruktur justru banyak diisi oleh tenaga kerja asing.

Strategi jangka pendek yang hendaknya dilakukan oleh pemerintah adalah melakukan rekrutmen tenaga kerja lulusan SMK dan vokasi untuk dididik secara singkat melalui "short course" dalam keterampilan di bidang infrastruktur.

Strategi jangka menengah adalah dengan pembukaan-pembukaan SMK dan pendidikan vokasi berbasis "man power planning" (MPP) dalam bentuk undang-undang untuk beberapa tahun ke depan sesuai dengan Visi Indonesia 2025 atau 2045, sebab jika tidak ada  MPP belum tentu  prioritas pembangunan akan sama dengan sekarang.

Sedangkan strategi jangka panjang, selain adanya MPP juga hendaknya dunia pendidikan tinggi mampu memprediksi perkembangan dunia usaha dan industri jauh ke depan. Dunia pendidikan tinggi juga harus mampu memprediksi kecenderungan generasi Milenial. Dengan demikian perguruan tinggi hendaknya membuka program-program vokasi yang futuristik dan "match" dengan perkembangan yang ada.

Untuk mengantisipasi ledakan pengangguran di masa mendatang, diperlukan strategi besar. Paradigma angkatan kerja dan ketenagakerjaan hendaknya diubah dari penyediaan dan perluasan lapangan kerja ke arah penciptaan wirausaha-wirausaha baru dan perusahaan-perusahaan "start-up", dari investasi-investasi padat karya dan padat modal ke arah investasi padat teknologi informasi, dan dari "competion" ke arah "innovative disruption" dan "disruptive innovation" yang terbukti menumbuhkan pengusaha-pengusaha baru dan lapangan kerja masif. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Rekonsiliasi Politik di Level Elit Diharapkan Terjadi di Level Sosial.              Tak Ada yang Salah dengan Pertemuan Jokowi Prabowo             Perhatikan Lag antara Demand Side dan Regulasi dari Sisi Supply Side             Tantangan yang Harus Dihadapi Masih Besar             Kemiskinan Makin Sedikit, Sulit Dikurangi             Bansos Tak Efektif Kurangi Kemiskinan             UNHCR Harus Keluar             Pembangunan Negara Hukum Harus Jadi Agenda Prioritas             ‘Visi Indonesia’ Tidak Prioritaskan Pembangunan Hukum dan HAM             Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung