BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK) Universitas Padjdjaran dan Dosen Sarjana & Pascasarjana Politik dan Pemerintahan, FISIP UNPAD, Bandung
Pemilihan Simbol Militer Untuk Menggugah Generasi Hari Ini

Penggunaan simbol militer dalam perayaan 17 Agustus tidak bisa dilihat sebagai upaya militer mempertahankan hegemoninya. Namun ini adalah upaya untuk menggugah generasi hari ini melihat pertarungan para pejuang kemerdekaan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Perlunya menggugah generasi hari ini untuk mengingat sulitnya merebut kemerdekaan dan mempertahankannya.

Di negara-negara yang kemerdekaannya tidak terlalu sulit direbut, seperti Filipina, simbolisasi seperti itu juga digunakan. Negara seperti Malaysia tidak terlalu mengunakan simbolisasi militer. Ini karena kemerdekaan mereka tidak melalui perjuangan yang berdarah-darah, melainkan diberikan oleh Inggris.

Penggunaan simbolisasi ini hanyalah pilihan, tidak ada tujuan politis apalagi sekadar mempertahankan hegemoni militer. Ada beberapa tujuan terkait pemilihan simbolisasi ini. Pertama, sebagai penyulut semangat untuk menjaga kemerdekaan dan persatuan. Kedua, pemilihan simbol menunjukkan heroisme para laskar merebut kemerdekaan dan mempertahankannya pascakemerdekaan. Ketiga, pemilihan simbolisasi ini sudah ada bukan dibuat-buat. Artinya, perjuangan para laskar yang menggunakan senjata mempertahankan Indonesia pasca proklamasi kemerdekaan itu nyata, bukan sesuatu yang dibuat-buat.

Saat kemerdekaan, wilayah kita utuh. Namun setelah masuk ke jalur diplomasi melalui perjanjian Linggarjati dan sebagainya, wilayah Indonesia jadi berkurang. Hanya meliputi sebagian Jawa dan Sumatera saja. Para laskarlah yang berupaya untuk mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sampai pada Konfrensi Meja Bundar (KMB) barulah wilayah NKRI kembali utuh.

Dalam pemilihan simbol ini, bisa juga menggunakan simbol insiyur untuk mengambarkan pembangunan. Dalam hal ini pemilihan simbolisasi militer tidak ada unsur politik sama sekali, tetapi untuk menggugah rasa patriotik generasi muda.  Jadi jangan dianggap pemilihan simbol tersebut sebagai langkah politik untuk mempertahankan hegemoni milter.

Mengapa tidak menggunakan simbol–simbol diplomasi? Karena memvisiualkan simbol diplomasi itu sulit. Masa mau gambar orang lagi berdiplomasi, itu kan sulit. Jadi digambarlah orang dengan bambu runcing dan caping, berdarah-darah merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Lagipula pada saat awal kemerdekaan tentara itu belum ada, yang ada hanya laskar-laskar yang berjuang.

Intinya, kemerdekaan itu direbut dan diperjuangkan selanjutnya dipertahankan dengan perang dan berdarah-darah. Diplomasi bukan inti dari perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, tetapi diplomasi  bagian dari kerangka perjuangan itu. (ast)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF