BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti INDEF (Institute for Development of Economics and Finance)
Pemerintah Harus Tunjukan Penggunaan Utang  Secara Produktif

Penambahan utang pemerintah menambah dilemma karena strategi pemerintah membuat anggaran secara ekspansif, sementara di sisi penerimaan tidak sesuai ekspektasi sebagai dampak penurunan pertumbuhan ekonomi. Ujung-ujungnya pemerintah harus menarik utang baru.

Penarikan utang baru akan menambah stok utang lama, sementara dari beberapa indeks bisnis dan komentar-komentar para pebisnis menyatakan ekonomi belum akan membaik hingga tahun depan.  Menambah utang menjadi pilihan rasional ketika penerimaan tidak bisa dinaikkan, namun meningkatkan risiko gejolak mata uang di masa yang akan datang.

Upaya pemerintah menyakinkan masyarakat bahwa penambahan utang baru tidak melebihi 3 persen dari PDB tidak cukup. Pemerintah juga tidak cukup mengatakan bahwa utang baru ini lebih efisien dengan bunga yang rendah karena saat ini bunga bank di tingkat global sedang turun.

Efisiensi tidak bisa ditunjukkan dari bunga yang rendah tetapi dengan menunjukkan bahwa belanja produktif lebih besar dari belanja yang sifatnya rutin. Ukurannya harus lebih jelas kepada hasil penggunaan utang itu sendiri, tidak sekadar menambal defisit, tetapi untuk tujuan produktif. Utang produktif masih menjadi tanda tanya besar selama pemerintah hanya sebatas memberikan pernyataan.

Ambisi mengejar pembangunan infrastruktur adalah dengan meningkatkan skema public – private partnership (PPP), tidak mengandalkan dana APBN. Namun partner yang ada saat ini pun terbatas pada China dan beberapa negara lain. Pemerintah perlu mendiversifikasi partner untuk skema PPP. Bergantung pada satu partner akan menimbulkan masalah geopolitik. (msw)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF