BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Transportasi
Pemerintah Harus Promosikan Tempat Wisata Terlebih Dahulu

Nasib Bandara Kertajati memang berbeda bila dibandingkan Bandara Silangit (2018 berubah nama menjadi Bandara Singamangaraja XII). Hingga kini Bandara Kertajati load factor rata-rata masih berkisar 20 persen tiap hari, namun mulai Januari 2019 Bandara Singamangaraja XII okupansinya telah meningkat sebesar 51 persen, maka Februari 2019 Garuda membuka kembali penerbangan ke bandara ini (setelah off selama satu bulan melayani ke Bandara Singamangaraja XII ). 

Kedua bandara tersebut dibangun sebagai solicited (prakarsa dari Pemerintah), tetapi bedanya Bandara Kertajadi dibangun 100 persen baru sedangkan Bandara Singamangaraja XII adalah pengembangan dan peningkatan fasilitas bandara (upgrading) untuk lebih melayani turis-turis asing dan lokal untuk berkunjung ke Kawasan Wisata Danau Toba. 

Bandara Singamangaraja XII telah ada sejak invasi Jepang ke Indonesia, lalu difungsikan dan dibangun kembali oleh Pemerintahan Orba, dikembangkan kembali oleh Pemerintahan SBY, dan terakhir ditingkatkan fasilitasnya oleh pemerintahan Jokowi. Kini pesawat berbadan lebar (A330) bisa landing di Bandara Singamangaraja XII yang telah memiliki runway dengan Panjang 2.650 meter dan lebar 45 meter. 

Bandara Kertajati, 2003 akan dibangun dengan tujuan utama adalah bandara terminal untuk ibadah haji. Namun di era pemerintahan Jokowi, Pemda Jabar membangun Bandara Kertajati dan pendanaannya dibantu oleh Pemerintah Pusat dengan tujuan untuk meningkatkan dan melayani wisata di Kabupaten Bandung dan Cirebon. Banyak faktor yang menyebabkan masih sepinya bandara Kertajati ini. 

Idealnya Perencanaan pembangunan Bandara Kertajati diimbangi (sinkronisasi dan hormonisasi) oleh pembangunan jalan tol akses menuju Bandara (tol Cisumdawu belum rampung), dan promosi daerah wisata di Jabar belum serius digarap. Jadi di sini paling tidak, ada 5 komponen K/L yang harus selalu rajin duduk Bersama untuk menentukan nasib Bandara Kertajati. Kementerian Perhubungan selaku regulator, KemenPUPR selaku penyelenggara akses jalan (tol), Kementerian Pariwisata selaku promotor kawasan wisata di Jabar, KemenBUMN selaku operator bandara dan tentunya Pemerintah Daerah Jabar selaku pemilik lahan. 

Keseriusan pemerintah pusat, membuat perencanaan Bandara Kertajati dimasukan oleh Bappenas melalui RPJMN 2015-2019. Tidak hanya itu saja, Kertajati juga dimasukkan dalam Program Strategis Nasional (PSN) tahun 2015 hingga 2017. Pendanaan pembangunan Bandara Kertajati ini gotong-royong juga antara pusat, daerah dan PINA (Pembiayaan Investasi Non Anggaran Pemerintah). Tentunya sebagai konsekuensi logis nya, para pendana ingin kembali modal secara normal. 

Timeline-nya adalah sebelum dibangun bandara, tempat-tempat wisata di Jabar harus giat dipromosikan terlebih dahulu atau sambil pararel pembangunan Bandara sekaligus pembangunan akses tol menuju bandara harus selesai bersamaan dengan bandara. Adalah keliru besar bila kini lebih utama promosi ke bandaranya, yang tepat adalah promosi tempat-tempat wisatanya dulu, bandara adalah prasarana transportasi udara menuju tempat-tempat wisata yang telah dipromosikan itu. 

Maka Kementerian Pariwisata (Dinas Pariwisata Jabar) memang harus kerja keras “jualan” daerah-daerah wisatanya supaya bandara juga “laku.” Kini ditambah oleh naiknya tiket pesawat terbang LCC akan lebih sulit lagi promosi wisata apabila tidak ada terobosan-terobosan radikal dalam pemasaran. Tidak salah meniru Bandara Soetta ketika awal dibuka, tidak lama setelah Bandara Halim Perdanakusuma ditutup. 

Bandara Husein Sastranegara memang idealnya ditutup supaya semua beralih ke Bandara Kertajati, karena zona udara lebih aman untuk navigasinya, namun rencana ini pasti akan sulit apabila akses jalan tol menuju bandara Kertajati tidak kunjung usai. Bandara Husein Sastranegara memang secara professional harus dikembalikan kepada AURI sebagai barak militer bukan untuk area penerbangan sipil, lagipula daerah Andir Bandung lalu lintasnya selalu macet dan tidak predictable menuju existing bandara Husein Sastranegera. 

Masalah sepinya okupansi Bandara Singamangaraja XII tentunya berbeda dengan Bandara Kertajati yang benar-benar baru, belum ada bentukan demand, habit, budaya, system dan sebagainya di sana. Bandara Singamangaraja XII yang telah ada sejak lama hanya perlu pemasaran kreatif untuk meningkatkan okupansi sama halnya seperti bandara Kertajati, yang utama adalah promosi wisata Kawasan Danau Toba. 

Beruntung saat ini telah ada BODT (Badan Otorita Danau Toba), yang akan promosi Toba di kancah nasional dan internasional, sehingga akan lebih mudah meningkatkan load factor Bandara Singamangaraja XII. Kalau terbalik promosi bandaranya dulu, maka bandara sulit “laku” karena tidak tahu destinasinya setelah dari turun dari bandara Singamangaraja XII mau kemana. (grh)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Insentif Pajak, Daya Tarik Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan