BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM
Pemanfaatan Teknologi Pendataan dan Produksi Pertanian

Dari sisi pemanfaatan teknologi pertanian/pangan untuk optimalisasi hasil pertanian, yang sudah dimiliki Indonesia yang pertama dari sisi bibit/varietas unggul pangan. Dari kolega yang ada di penelitian bidang varietas unggul, saat ini sudah mempunyai varietas unggul yang mempunyai produktivitas yang lebih baik. Namun kadang-kadang mereka belum bisa melepas ke petani karena ada tahapan pengujian hal mana membuatnya lebih lama. Mungkin dari pengujian hasilnya bagus misalnya ada tampilan dan aroma yang menarik, tetapi dari sisi kecepatan kurang.

Artinya mungkin dibutuhkan peninjauan dan dukungan dari birokrasi terkait varietas itu. Agar supaya ketika ditemukan bibit unggul yang ditemukan oleh penelitian tidak membutuhkan waktu lama dan langsung bisa dinikmati oleh petani. Saat ini waktu yang dibutuhkan untuk proses pengujian sendiri sudah butuh waktu lama. Lalu ada sertifikasi benih, kemudian izin dari beragam instansi yang harus  diperoleh. Kesimpulannya, untuk pengenalan varietas unggul baru masih terlalu lama. Sebetulnya jika birokrasi nya bisa dipersingkat maka petani bisa langsung memanfaatkan temuan baru tersebut.

Kedua, dari segi teknologi budidaya. Tantangan sekarang adalah semakin sempitnya lahan pertanian tetapi harus bisa diatasi dengan teknologi yang lebih baik. Misalnya teknologi penanaman untuk jagung, kedelai, padi dan sebagainya, tantangannya adalah bagaimana penggunaan air bisa lebih efisien. Juga jangan sampai teknologi penggunaan air yang efisien ini tidak dikembangkan.

Meskipun sekarang sudah dibangun banyak waduk tetapi tetapi manajemen pengelolaannya juga diperhatikan. Di desa ada perkumpulan petani pemakai air dan sebagainya, tentunya mereka harus mempunyai manajemen yang baik supaya air secara efisien tidak terbuang dan seterusnya.

Terakhir yang lebih penting pemanfaatannya adalah teknologi hidroponik. Teknologi itu harus dikembangkan agar masyarakat yang mampu menggunakan teknologi hidroponik semakin banyak dan teknologi itu harusnya semakin murah. Dengan teknologi hidroponik, maka keterbatasan lahan tidak lagi menjadi kendala. Hal ini yang menarik. Paling tidak dengan pengembangan teknologi hidroponik yang lebih maju dan masif maka persoalan semakin terbatasnya lahan-lahan tradisional bisa diatasi.

Penggunaan teknologi android untuk pengembangan hasil pertanian sampai saat ini masih pada level marketing. Belum menyentuh pada produksi. Kalau bicara teknologi maka seperti tadi ihwal bibit/varietas unggul, pemanfaatan air, sarana pengairan atau waduk dan teknologi hidroponik.

Penggunaan teknologi android belum sampai tahap produksi. Yang kami lihat sekarang baru pada sisi marketingnya. Ketika tiba musim panen, mereka mencoba untuk ikut memasarkan hasil panen supaya informasinya bisa terjangkau kepada pembeli. Sementara ini antara pembeli dengan produsen atau petani terdapat gap di tengahnya, yakni pedagang. Pedagang ini yang sering memainkan harga sehingga terjadi kelangkaan. Misalnya di desa A panen bawang tetapi desa B belum tahu, maka penggunaan android untuk aplikasi-aplikasi misalnya “regopantes” mereka mencoba untuk memangkas informasi middle man tersebut sehingga langsung bisa diketahui oleh produsen maupun konsumen.   

Dari Kementerian Perdagangan juga ada informasi mengenai harga-harganya saja tetapi tidak memberi tahu dimana lokasi pembeliannya.

Aplikasi marketing hasil pertanian saat ini sudah dapat menyediakan lokasi pembelian produk hasil pertanian yang dibutuhkan dan langsung bisa bertransaksi.

Jadi masih pada level marketing. Jika masuk level produksi akan melibatkan banyak pihak dan tidak sekadar aplikator. Sebetulnya mereka mencontoh produk aplikasi tokopedia misalnya. Dimana ada transaksi jual beli yang diperantarai oleh tokopedia. Model-modelnya masih seperti itu dengan tujuan efisiensi biaya. Dengan adanya online marketing para middle man tidak lagi bisa mendapatkan margin keuntungan berlipat-lipat.

Persoalan perbedaan data antar Kementerian dan lembaga untuk data perberasan nasional, sebetulnya ilmu itu jika metodologinya beda maka hasilnyapun akan berbeda. Jika menginginkan hasil yang sama maka metodologinya juga harus sama. Pada tingkat metodologi akan diuji, mana yang paling sahih.

Bagi kami tentunya hal itu harus akurat dan obyektif. Sebetulnya pengujian hasil metodologi adalah di tingkat realitas lapangan. Selama ini yang membuat ruwet adalah bahwa data perberasan bersumber dari masing-masing Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan dan Bulog.

Ketika ke 3 institusi menyebutkan data, tapi di lapangan terjadi gap yaitu adanya impor, lalu disebutkan ada ketidaksesuaian data. Maksud saya, boleh saja data berbeda, tetapi semuanya akan diuji oleh realitas di lapangan. Realitas lapangan itu tidak bisa dibohongi. Ketika di pasar disebut beras berlimpah, maka harus dicek ke pasar apakah betul berlebih. Angka-angka pada data akan diuji benar tidaknya di lapangan.

Saat ini data dari BPS dengan Kementan itu selisihnya 14 juta ton. Kami katakan kalau ingin diketahui mana yang benar, maka harus dilakukan peninjauan lapangan.

Di lapangan sebetulnya mudah, cuma masalahnya ini sudah masuk ranah politik. Ada penyebutan info bahwa data perberasan nasional sebetulnya sudah tidak valid sejak 1997, jadi sebetulnya selama ini kita hidup penuh kepura-puraan. Hal itu artinya sudah masuk ranah politik. Kesimpulan saya, seharusnya kita hapuskan saja kesalahan data masa lalu, lalu kembalikan ke titik nol. Berapa sebetulnya kemampuan produksi beras kita secara nasional. Jangan sampai berbicara tanpa data valid.

Harapannya, momentum ini bisa digunakan sebagai awal perbaikan menyeluruh. Sehingga bisa disusun langkah-langkah yang benar untuk program swasembada pangan. Tidak hanya pada data beras, tapi juga data garam nasional. Itu menyedihkan. Juga data daging ayam, daging sapi. Jadi Indonesia selama ini kacau balau nya di data. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Temuan TPF Novel Tidak Fokus             Bentuk TGPF Independen untuk Kasus Novel Baswedan             Pilah Skema Untuk Proyek Strategis             Risiko Penyertaan Equity Proyek Macet             Diskresi Kepolisian Bermasalah?             Penanganan Tak Sesuai Perkap             Polisi Tidak Dikondisikan Menjadi Arogan             Kita Tidak Dapat Menduga Kondisi Mental Polisi saat Menembak             MPLS Harus Diselenggarakan Sesuai Pedoman             Pendidikan Swasta Semi Militer Harus Ditertibkan