BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)
Peluang Bayang-bayang Anti-dumping Baja China

Berada di posisi yang sama dengan Uni Eropa, Jepang dan Korea, Indonesia terkena dampak akibat kebijakan anti-dumping dari China, khususnya produk baja nirkarat (stainless steel) dengan bea masuk 20,2 persen. Indonesia berpikir bahwa produk stainless steel dari domestik tidak akan terkena dampak karena berafiliasi dengan produsen stainless steel asal negeri Panda tersebut, Tsingshan Steel yang memproduksi  stainless steel di KEK Morowali.

China sebagai produsen baja nirkarat terbesar di dunia tentu tidak mau menghadapi baja Indonesia masuk ke dalam negaranya. Atau tujuannya memang bukan demikian. Tentu China ingin dominasi sebagai produsen baja di dunia semakin tinggi. Saat ini China mengekspor sebesar 66,9 juta metrik ton baja.

Selain itu kita bisa melihat bahwa negara-negara Uni Eropa yang tidak banyak melakukan ekspor produk tersebut saat ini juga dikenakan bea lebih besar dari Indonesia sebesar 43 persen. Hal ini tentu dapat memberikan dampak negatif bagi negara-negara Eropa tersebut. Perusahaan baja dari negara-negara Eropa akan merugi hingga terancam kolaps.

Namun, hal ini merupakan peluang bagi Indonesia. Indonesia dapat melakukan diversifikasi ekspor produk baja nirkarat ini ke negara-negara Eropa tersebut. Tentunya, peluang ini memiliki tantangan bahwa produk-produk baja nirkarat serupa akan bersaing dengan Jepang dan Korea. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF