BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Jurnalis Senior
Pelanggaran Lalin Sejak dari Rumah

Dalam hal berlalulintas, kesadaran bangsa indonesia sangat rendah. Akibatnya banyak anggota masyarakat yang menjadi korban di jalanan, baik korban luka maupun tewas. Seharusnya kesadaran berlalulintas atau kesadaran akan keselamatan di jalan sudah dibangun sejak di rumah. Ketaatannya harus tanpa kompromi.

Tetapi di Indonesia hal itu tidak terjadi. Anak-anak yang belum cukup umur dan belum punya SIM diizinkan orang tuanya menggunakan kenderaan bermotor. Padahal hal ini sama saja membiarkan anaknya terbunuh di jalanan dan menjadi korban kecelakaan lalulintas. Dari sini terlihat sejak dari rumah para orang tua tidak peduli pada kepatuhan berlalulintas maupun keselamatan di jalanan. Akibatnya aksi serampangan berlalulintas menjadi budaya bangsa ini. Anggota keluarga tanpa helm dibiarkan menggunakan sepeda motor. Aksi melawan arah tidak hanya dilakukan anak-anak tapi juga para orang tua, dan kecerobohan ini sudah menjadi budaya bangsa ini.

Akibat aksi seenaknya ini, sejumlah oknum polisi memanfaatkan situasi untuk mendapatkan keuntungan pribadi dengan melakukan aksi tilang 'damai' di jalanan. Sehingga budaya seenaknya anggota masyarakat di jalanan tetap terpelihara tanpa ada upaya yang serius untuk mengendalikannya. Akibatnya kampanye keselamatan di jalanan dan kampanye tertib berlalulintas dari Polri hanya sekadar kampaye dan slogan kosong yang tidak dihiraukan masyarakat. Terbukti sikap seenaknya di jalanan tetap menjadi budaya.

Tak mudah untuk mengatasi hal ini. Sebab tidak ada upaya yang serius untuk membangun kesadaran tertib berlalulintas dan mengutamakan keselamatan di jalanan sejak dari rumah. Tidak ada kepedulian dari para orang tua untuk mengingatkan anaknya karena para orang tua juga selalu bersikap seenaknya di jalanan.

Selain itu tidak ada upaya yang serius dari pemerintah untuk membangun budaya tertib berlalulintas, karena pemerintah lebih asyik mengejar pemasukan dari membanjirnya produk industri otomotif. Pemerintah tidak pernah mau berfikir untuk membatasi jumlah produk otomotif demi ketertiban berlalulintas dan keselamatan di jalanan. Di lain pihak, oknum kepolisian tetap asyik memanfaatkan situasi kesemerawutan dan kekacauan ini untuk "damai' di jalanan. Sehingga kampanye dan slogan tertib berlalulintas seakan menjadi slogan kosong yang tidak pernah dipatuhi. (ast)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Jerry Massie, Dr., M.A., Ph.D.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

FOLLOW US

Temuan TPF Novel Tidak Fokus             Bentuk TGPF Independen untuk Kasus Novel Baswedan             Pilah Skema Untuk Proyek Strategis             Risiko Penyertaan Equity Proyek Macet             Diskresi Kepolisian Bermasalah?             Penanganan Tak Sesuai Perkap             Polisi Tidak Dikondisikan Menjadi Arogan             Kita Tidak Dapat Menduga Kondisi Mental Polisi saat Menembak             MPLS Harus Diselenggarakan Sesuai Pedoman             Pendidikan Swasta Semi Militer Harus Ditertibkan