BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Sekretaris Dewan Pakar PA GMNI
Pekerja Migran ataukah Ekspor Manusia?

Sudah sejak Orba  banyak masyarakat Indonesia mencari pekerjaan ke luar negeri. Baik pria maupun wanita, gadis, janda maupun ibu rumah tangga. 

Mereka rela meninggalkan anak, istri ataupun suami guna mempertahankan kelangsungan hidup dengan risiko disiksa,  dihukum mati dan diperkosa, yang kasusnya makin bertambah terus tiap tahunnya, meski perlindungan negara dan lembaga pengirim tenaga kerja sangatlah minim.        

Di negara yang bermartabat mereka juga mengirim tenaga kerja keluar negeri namun tenaga kerja yang ter terdidik dan dengan perlindungan dari negara yang maksimal sehingga mereka bekerja betul-betul sebagai profesional. 

Namun dari Indonesia sebagian besar adalah pembantu rumah tangga yang pendidikannya rendah, mudah dibodoh-bodohi tanpa keterampilan yang sangat dasar sehingga seringkali terjadi konflik yang menimbulkan kerugian badan, moril materil sampai hukuman mati.

Indonesia yang sesungguhnya adalah negara sangat kaya dalam sumber daya alam mineral maupun manusia sangatlah tidak pantas apabila hal ini masih terus berlangsung dan sangat menurunkan harkat martabat bangsa di mata internasional.
  
Ada empat sebab mendasar  kenapa hal ini terjadi:
1. Tata kelola pemerintahan yang kurang baik terutama KKN yang Mengakibatkan kemiskinan kebodohan dan pengangguran.   

2. Lemahnya jiwa dan semangat enterpreneur pada sebagian besar bangsa ini karena tidak tersedianya kesempatan untuk membangun enterpreneurship.   

3. Tidak adanya atau minimnya perlindungan bagi para pekerja migran baik dari lembaga pengirim tenaga kerja maupun dari pemerintah.

4. Kerjasama bilateral yang kurang seimbang dengan negara penerima pekerja migran.     

Maka secara umum, cara mengatasi pengangguran adalah dengan membuka lapangan pekerjaan. Tetapi, diperlukan aksi-aksi yang lebih spesifik daripada hanya membuka lapangan pekerjaan yang masih bermakna luas tersebut. 

Pengangguran juga sangat erat kaitannya dengan permasalahan ekonomi. Banyaknya pengangguran dapat menimbulkan naiknya tingkat kemiskinan. 

Untuk itu, sangat dibutuhkan cara mengatasi pengangguran agar perekonomian dan kesejahteraan masyarakat dapat tercapai.

Penanaman jiwa wirausaha di sekolah merupakan salah satu contoh.

Cara mengatasi pengangguran adalah dengan membuka pendidikan /sekolah kewirausahaan (pendidikan enteurpreuner).

Perlindungan untuk Tenaga Kerja Indonesia (TKI)  sampai saat ini masih ada beberapa masalah yang terjadi terutama pada buruh migran. Masalah perekrutan TKI adalah masalah mendasar yang perlu segera dibenahi. Hal ini untuk mencegah pelanggaran hukum yang dilakukan agen TKI ilegal dan agen culas. 

Pengawasan harus benar-benar dilakukan dan tindakan hukum wajib diterapkan terhadap dua agen jenis ini (ilegal dan legal) yang digunakan dan mengakali peraturan

Pemerintah dapat menggandeng beberapa universitas untuk memfasilitasi pelatihan vokasi. Misalnya, keterampilan bahasa dan yang lainnya.

Anggaran Pendapatan Belanja Negera (APBN) sebanyak 2 persen untuk pendidikan hendaknya juga diberikan porsi pada pelatihan vokasi bagi para buruh migran. 

Peraturan Pelaksanaan Hukum Perlindungan Pekerja Migran Indonesia  harus juga diterapkan. Aturan ini, bisa dijadikan daya tawar pemerintah untuk negara penerima buruh migran.

Yang terahir adalah kesadaran bersama elit untuk tidak korupsi atau memanipulasi hal-hal terkait, dan lebih seriusnya pemberantasan korupsi scara masif. 

Bila hal ini sulit dilakukan maka HENTIKAN pengiriman TKW keluar negri kecuali untuk tenaga TERDIDIK !
(pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI