BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pasar Melihat, dan Selalu Punya Ekspektasi

Setiap pilpres memang sesuatu yang selalu dinantikan. Tetapi itu lebih pada "efek pilpres" dan bukan “efek presiden”nya. Pilpresnya sudah tentu akan selalu disambut positif, tapi lalu bukan pada “Jokowi Effect” atau “Prabowo Effect”.

Sebetulnya efek paska pilpres dengan penentuan pemenang selalu berdampak positif. Contohnya ketika Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menang, lalu Megawati juga begitu. Bahkan dalam sejarah dunia ketika ditarik datanya ke luar Indonesia misalnya di Amerika (AS), ketika Trump terpilih juga disambut positif, meskipun itu adalah di luar ekspektasi pasar.

Jadi yang lebih tepat memang sebetulnya “Pilpres Effect”, dan bukan “Jokowi Effect” atau “Prabowo Effect”.

Tipikal market atau investor itu adalah “agnostic”. Dia tidak punya keyakinan tertentu, tetapi melihat lebih pada “kepastian”. Mereka lebih melihat “setelah ini, lalu apa…”.

Kenapa mereka wait and see, terutama bagi investor jangka panjang (FDI) yang selama ini wait and see karena dalam beberapa tahun terakhir kebijakan ekonomi Indonesia memang tidak konsisten. Sehingga itu membuat mereka agak reluctant masuk ke Indonesia.

Pilpres ini akhinya seperti “gong” nya. Mereka sangat butuh kepastian.

Lain halnya dengan portofolio investment atau investasi jangka pendek, sudah terlihat bahwa sejak Januari hingga Maret 2019, arus modal masuk sudah lebih dari Rp90 triliun. Bahkan sempat setelah pilpres 17 April 2019 ada tren positif kembali pada sisi rupiah maupun IHSG. Hal itu juga didorong oleh portofolio investment tadi.  

Efek perbaikan di atas memang efek yang alami setelah pilpres, tapi bukan berarti pasar lebih percaya Jokowi. Investor itu agnostic, tidak perduli siapa yang terpilih.

Memang ini moment yang positif, tapi kita juga harus memperhatikan bahwa tipikal portofolio investment ini gampang masuk dan gampang terbang keluar. Moment positif memang, tetapi harus terus dijaga.

Sekarang pekerjaan rumah nya adalah, bagaimana FDI kita pada tahun ini bisa meningkat. Investor FDI itu adalah investor PMA yang berjangka panjang, yang mana mereka memang wait and see sebagai imbas dari beberapa kebijakan beberapa tahun belakangan. Kebijakan yang dinilai sangat populis atau sangat memperhatikan efek elektoral, tetapi membuatnya menjadi tidak konsisten.

Pada sisi yang lain, ketika pilpres sudah selesai, yang juga perlu mendapat perhatian ke depan adalah bagaimana nanti pada Oktober 2019 setelah pelantikan presiden, maka susunan kabinet akan kembali dilihat, apakah sesuai dengan ekspektasi pasar.

Biasanya efek pilpres ini hanya euphoria sesaat dan itu sangat alami, bagi investor yang agnostic, setelah mendapat kepastian siapa presidennya, lalu mereka butuh tahu, siapa nanti yang akan mengisi kabinet.

Hal itu juga suatu hal yang penting buat mereka. Karena dengan info itu mereka bisa membuat prognosa kebijakan pemerintah ke depan dari menteri-menteri yang ada di kabinet. Terutama dari menteri-menteri yang sektoral.

Apakah nanti sampai tanggal 22 Mei 2019 akan ada sudden reversal dan lain-lain, sepertinya tidak terjadi. Market sudah sangat mature, begitu juga demokrasi kita yang sudah sangat dewasa.

Kabinet yang diharapkan oleh pasar, sepertinya kabinet yang diisi oleh orang-orang yang profesional, karena sekarang ketakutan dari pasar adalah diisi oleh orang-orang koalisi. Pasar juga melihat, jika Jokowi lanjut, koalisi sekarang sepertinya terlalu besar.    

Bila terjadi lagi bagi-bagi kekuasaan seperti pada periode pertama, dan pada periode ke dua nanti koalisinya akan lebih banyak lagi yang bergabung, maka itu adalah sebuah gimmick yang tidak bagus buat pasar. Dan pasar akan melihat bahwa ini hanya bagi-bagi jatah saja.

Ke depan, yang harus lebih diperhatikan adalah bagaimana porsi partai politik tidak terlalu besar di kabinet. Diharapkan hanya diisi oleh orang-orang yang memang kompeten. Tetutama di Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Ekonomi pada umumnya, baik Menteri Keuangan dan Menko Perekonomian dan lain-lain. (pso)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Inovasi Kebijakan yang Tidak Menjual             Kebijakan Tergantung Tujuan Awalnya             Kebaya Tak Perlu Dipertanyakan             Penggalian Nilai Budaya Dibalik Kebaya             Berkebaya Adalah Kesadaran             Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?             Kebutuhan Gas Dalam Negeri Harus Diutamakan