BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Wakil Ketua DPW Kombatan Bali, Dosen Universitas Mahendradata Bali
Parpol Angkat Peristiwa Masa Silam, Menunai Intrik

Partai Solidaritas Indonesia  berdiri tahun 2014, dengan  platform tentang  solidaritas, pluralitas beragama suku bangsa. Kalangan pengurus berumur 45 tahun dan sepertinya tertutup, serta  mantan politisi partai lain.

Dengan gencarnya sosialisasi PSI yang cukup menyerap aspirasi kalangan muda. Namun pihak generasi tua masih melihat arah PSI kemana? Walaupun PSI ini memiliki platform berbeda dengan PSI  sultan Syarir. Meskipun negeri ini sudah ada HAM, tidak menjadi obat bagi para tetua untuk turut agresif masuk, diakibatkan PSI masa lalunya punya riwayat  kelam, karena ada indikasi pro komunis.

Partai Sosialis Indonesia (PSI ), didirikan Sultan Syarir pada 13 Februari 1948. Berhaluan kiri menganut idiologi sosialisme, merupakan fusi Partai Sosialis Indonesia ( PARSI ) Amir Syarifuddin 1945 dan Partai Rakyat Sosialisme (PARAS). Bergabung berdasarkan front rakyat anti kapitalisme dan imperaliame, pro komunisme.

Saya memandang PSI baru kurang cermat, ketika peristiwa masa lalu pelanggaran HAM Soeharto diungkapkan, seperti  membuka kembali  dendam masa lalu. Karena tokoh Soeharto pernah meluluh lantakkan komunisme dari Indonesia. Jika kita menilai keburukan orang tua tanpa menimbang sisi baiknya juga, kita dipandang durharka (orang Bali menyebut alpaka guru), dan ini tidak diinginkan.

Jika PSI berkeinginan menjadi partai modern, dan menyatakan beda platform dengan PSI masa lalu, kenapa tidak mengangkat isu menyimak masa kini dan kedepan. Katakan seperti  Gerakan terorisme yang mengancam pluralisme dan ketenangan masyarakat .

Ketika PSI ini mengangkat peristiwa masa lalu, orang akan bertanya-tanya.. “ ini partai jelmaan atau apa?” Padahal Partai Solidaritas Indonesia masih dalam koridor penilaian rakyat, yang baru akan ikut Pemilu 2019. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Temuan TPF Novel Tidak Fokus             Bentuk TGPF Independen untuk Kasus Novel Baswedan             Pilah Skema Untuk Proyek Strategis             Risiko Penyertaan Equity Proyek Macet             Diskresi Kepolisian Bermasalah?             Penanganan Tak Sesuai Perkap             Polisi Tidak Dikondisikan Menjadi Arogan             Kita Tidak Dapat Menduga Kondisi Mental Polisi saat Menembak             MPLS Harus Diselenggarakan Sesuai Pedoman             Pendidikan Swasta Semi Militer Harus Ditertibkan