BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Panggung Prostitusi Di Media Patriarkis

Prostitusi dikatakan sebagai salah satu bisnis tertua di dunia. Di Indonesia, prostitusi dianggap sebagai aktivitas yang melawan hukum dan bertentangan dengan nilai dan norma kesusilaan. Untuk itulah prostitusi menjadi ancaman terhadap moralitas.

Ada problem kultural yang terjadi dalam masyarakat kala mereka mencela dan mengutuk praktik prostitusi. Problem kultural yang dimaksud adalah problem klasik masyarakat patriarkis yang memandang segala aspek kehidupan dari sudut pandang laki-laki (male gaze), termasuk problem prostitusi.

Dalam logika patriarkis, perempuan diatur seksualitasnya. Ia tidak boleh mengekspresikan hasrat dan mempertontonkan tubuhnya. Jika seorang perempuan tidak mampu memenuhi harapan tersebut, sederet label negatif akan dilekatkan padanya, mulai dari perempuan nakal, liar, hingga binal. Sebaliknya, laki-laki dianggap makhluk yang dianugerahi oleh hasrat yang besar, sehingga perilaku laki-laki yang mengumbar hasrat seksualnya dinormalkan.

Hal inilah yang menimbulkan standar ganda masyarakat dalam memahami praktik prostitusi. Prostitusi melibatkan mucikari, pekerja seks dan konsumen. Relasi pekerja seks dengan mucikasi dan konsumen adalah relasi yang timpang dan eksploitatif. Pekerja seks yang mayoritas adalah perempuan adalah pihak yang kerap dirugikan dan dieksploitasi. Atas dasar itulah Komnas Perempuan menganggap perempuan pekerja seks sebagai korban eksploitasi dunia hiburan, dan menilai prostitusi sebagai kekerasan terhadap perempuan (IDN Times, 8/1/2019).

Pemahaman ini luput dari perhatian masyarakat yang telanjur patriarkis. Male gaze menempatkan perempuan sebagai pihak yang dihakimi. Mengapa? Karena ia gagal mengendalikan hasrat dan tubuhnya. Sementara posisi laki-laki sebagai konsumen cenderung aman.

Logika inilah yang dipahami (dan disukai) oleh masyarakat, termasuk hukum dan media dalam memahami kasus prostitusi online yang melibatkan artis (VA). Dalam berbagai kasus kekerasan seksual misalnya, payung hukum yang ada masih belum menunjukkan keberpihakannya pada perempuan sebagai korban. Sudah bukan rahasia lagi jika interogasi polisi atau proses persidangan, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan justru menyudutkan perempuan sebagai korban.

Publikasi kasus prostitusi online yang melibatkan VA selaku pekerja seks menunjukkan ketidakberpihakan media pada perempuan. VA justru menjadi magnet publikasi. Namanya disebut dengan jelas dan berulang-ulang. Wajahnya dieksploitasi sedemikian rupa. Bukannya di-blur, kamera justru fokus tanpa inisial pada wajah VA (close up). Judul-Judul tulisan di media cetak ataupun online juga sangat menyudutkan VA. Sang mucikari justru relatif aman posisinya karena jarang disebut-sebut. Jika disebutpun malah memakai inisial. Begitu juga dengan si konsumen. Polisi memang menyebut nama (R), namun media tampaknya malah lebih asik mengulik kisah VA dibanding R.

Inilah potret masyarakat patriarkis yang disebut penulis sebagai problem kultural di awal tulisan ini. Edukasi masyarakat akan problem ini sejatinya sudah cukup gencar dilakukan. Namun, hal itu memang tidak mudah. Media seharusnya mampu menjadi agen edukasi bagi masyarakat terhadap bahayanya kultur patriarkis, dan bukannya melanggengkannya.

Untuk itu, sudah saatnya media menghentikan eksploitasi atas kasus ini. Media sebaiknya menginformasikan secara proporsional dan memberikan perlindungan kepada korban. Hal ini hanya dapat dilakukan jika media memiliki itikad baik untuk berpihak pada kepentingan publik dan menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat sensasional semata. Dan satu lagi yang juga sangat penting adalah kemauan media untuk lebih peka terhadap persoalan-persoalan gender dan seksualitas. (grh)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

FOLLOW US

Kapasitas Sumber Daya Lokal yang Menjadi Hambatan             Konglomerasi Media dan Pilpres             Kuatnya Arus Golput: Intropeksi Bagi Parpol             Golput Bagian dari Dinamika Politik             Parpol ke Arah Oligharkhis atau Perubahan?             Melawan Pembajak Demokrasi             Pilih Saja Dildo             Golput dan Migrasi Politik             Golput Bukan Pilihan Terbaik             Golput dan Ancaman Demokrasi