BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Staf pengajar jurusan Film Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Yogyakarta, pendiri komunitas film Montase
Pakai Referensi Budaya Pop? Mengapa Tidak

Apakah pidato mengutip serial Game of Thrones  oleh Presiden Jokowi di forum IMF-World Bank, upaya menggaet kaum milineal? 

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, saya ingin pula menyertakan pidato Jokowi yang lainnya, menyoal perekonomian dagang dunia yang menuju perang  tanpa batas (Infinity War) dalam Forum Ekonomi Dunia tentang ASEAN bulan lalu. 

Jokowi mengatakan bahwa ia bersama rekan sesama Avengers lainnya siap menghalangi Thanos yang ingin menghapus sebagian populasi dunia. Bersama pidato Game of Thrones yang baru lalu, Jokowi kembali menggunakan analogi sederhana menggunakan dua seri franchise populer tersebut. 

Saya bukan orang yang kompeten bicara soal politik dan tidak mencoba untuk membenarkan atau menyalahkan pertanyaan di atas. Saya kebetulan tahu banyak tentang film, dan saya tahu persis jika medium ini adalah salah satu medium yang efektif untuk menyampaikan pesan secara global. Kebetulan pula, medium ini amat dekat dengan generasi milineal. Apa yang disampaikan Jokowi, juga tidak lepas dari esensi plot dalam film-film tersebut. Dan memang, inti pesan dari film-film tersebut adalah tentang kedamaian. 

Saya tak sepandapat dengan anggapan kita harus mutlak belajar dari tradisi dan budaya kita sendiri untuk membuat bangsa kita lebih maju dan beradab. Mengagungkan tradisi, kearifan lokal, serta nilai-nilai luhur yang dimiliki bangsa ini adalah tugas dan kewajiban kita semua, namun bukan lantas kita menolak tradisi dan budaya lainnya yang juga bisa membuat kita lebih baik. 

Dunia dari masa ke masa selalu berubah, masalah yang dihadapi seribu tahun lalu berbeda dengan kini, walau esensi masalahnya bisa jadi sama. Kita bisa belajar dari mana pun asalkan itu bisa membuat kita menjadi lebih baik. 

Budaya populer macam film adalah satu dari sekian banyak medium yang mampu menyisipkan pesan kebaikan secara global karena ratusan juta orang di muka bumi ini menonton film dan lebih dari separuhnya adalah generasi milineal.  

Kembali ke pertanyaan di atas, jawabnya mengapa tidak.  Tidak perlu kita melihat film ini diproduksi oleh siapa dan bangsa mana. Apapun yang mengajarkan dan menyampaikan pesan kebaikan kita gunakan saja. Tidak ada yang salah, dan mungkin hanya masalah beda sudut pandang saja. 

Mungkin kita butuh superhero untuk mendamaikan semua, ataukah memang, superhero pun tak akan bisa menyelesaikan masalah global kita saat ini? Kejahatan akan selalu muncul dan kebaikan akan selalu ada, itu kata-kata yang bisa saya simpulkan dari banyak nonton film. Jika kelak, terbukti cara ini efektif untuk menggaet generasi milineal untuk sebuah kemenangan politik. Saya hanya punya komentar, cerdas dan brilian sekali. (ade)
 

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF