BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Akademisi Universitas Airlangga Surabaya
PMDN Ada Peluang, Tetapi Konsumsi Melambat

Dari sisi konsumsi sebenarnya agak sedikit meragukan, karena konsumsi kita berada pada tren inflasi yang melambat. Inflasi yang melambat secara ekonomi bisa terjadi karena dua hal: pertama, karena adanya pertambahan produksi, barang tambah banyak. Kedua, karena daya beli masyarakat melemah. Ibarat kondisi pasar, pembeli sedikit maka mau tidak mau akan jatuh.

Dalam konteks Indonesia agaknya gejala kedua yang lebih tampak. Daya beli sedang melemah, oleh karenanya jangan mengharapkan dari sisi konsumsi. Sepertinya tarikan konsumsi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tidak lagi sekuat dulu.  

Apalagi saat ini sedang diharapkan salah satu sektor untuk menarik pertumbuhan yakni sektor pariwisata. Generasi milenial sekarang cenderung lebih tertarik untuk “membeli pengalaman” dengan touring kemana saja.

Tetapi ironisnya, rezim sekarang adalah “rezim” pesawat mahal (tarif). Hal itu membuat efek melambat yang berdampak kemana-mana. Konsumen jadi malas bepergian karena tarif tiket pesawat yang mahal. Dan itu dampaknya ke berbagai sektor pendukung pariwisata.

Kedua, tarif angkutan online baik taxi maupun ojek online (Ojol) mulai diregulasi oleh pemerintah. Ada upaya untuk menaikkan harga. Keputusan menaikkan tarif transportasi online itu juga berdampak berbagai sektor.

Sektor transportasi juga merupakan salah satu sektor vital untuk memindahkan orang dan barang dari satu titik ke titik lainnya. Kalau tarifnya meningkat, maka dampaknya ke daya beli dan inflasi. Jadi, sudahlah ongkos pesawat mahal, ditambah tarif transportasi online juga naik.

Kondisinya sekarang, kalau tarif pesawat yang menjadi konsumsi kelas menengah naik, begitu juga tarif transportasi online yang notabene milik kelas bawah, maka tinggal orang-orang kaya saja yang bisa mendorong konsumsi kita.

Dari sisi PMDN sebenarnya ada peluang dari proyek infrastruktur yang dilakukan di era Jokowi. Kalau proyek infrastruktur berhasil ditindaklanjuti oleh pihak swasta misalnya travel time yang turun oleh adanya jalan tol, maka perkiraannya bisnis yang tadinya tidak menguntungkan menjadi menguntungkan.

Tapi tentu saja hal itu butuh waktu sampai bisa dieksekusi. Pada dasarnya untuk PMDN ada ruang untuk menjadi motor penggerak pertumbuhan. Itupun dengan dua hal yaitu pertama, butuh waktu bagi masyarakat untjuk merespon.

Kedua, karena inflasi rendah dan daya beli melemah, maka sukubunga riil diperkirakan akan turun. Harga modal pun akan turun. Bagi investor, saat ini momen yang pas karena sukubunga sedang murah.

Sebenarnya jika inflasi rendah maka sukubunga akan turun, hanya dikhawatirkan sukubungan BI bisa jadi akan naik lagi sebagai upaya mengerem depresiasi rupiah.

Harapan sekarang adalah dari dampak limpahan PMDN dari sisi pembangunan infrastruktur. Harus diperhatikan juga, dampak dari pembangunan infrastruktur bagi ekonomi lama yang ikut tergusur. Daerah yang semula ramai kemudian menjadi sepi karena dilewati jalur tol trans Jawa misalnya.

Tapi di sisi lain hal itu juga membuka peluang bagi ekonomi baru. Sekarang tinggal dibandingkan lebih besar mana ekonomi lama yang tergusur, atau ekonomi baru sebagai dampak dari pembangunan infrastruktur.

Pemerintah harus segera membuat konsep untuk mengakselerasi sektor riil yang terbantu oleh infrastruktur agar menjadi lebih cepat tumbuh.

Peningkatan konsumsi di bulan ramadhan dan Idul Fitri sekarang diperkirakan tidak sebesar di tahun-tahun sebelumnya. Tahun lalu saja, peningkatan konsumsi pada ramadhan tidak sebesar 2-3 tahun terakhir. Gejala itu bisa juga dibaca pada artikel-artikel yang mengupas hal tersebut. (pso)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar