BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel
PKS Dalam Pusaran Pilgub Jabar

Dinamika politik Pilgub Jabar 2018 semakin menarik. Masing-masing partai terus membangun kekuatan dan mencari figur terbaik untuk diusung maju dalam pesta demokrasi lima tahun tersebut. Beberapa nama yang kini muncul seperti Ridwan Kamil, Deddy Mizwar dan Dedy Mulyadi dinilai sebagai kandidat kuat untuk bertarung di Pilgub Jabar.

Dari beberapa survei ketiga nama tersebut juga memiliki tingkat popularitas dan elektabilitas yang cukup tinggi. Melihat dari beberapa survei tersebut, diprediksikan bahwa perhelatan demokrasi lima tahunan di Jabar akan diramaikan tiga pasangan calon. Namun semua tergantung dinamika terutama menyangkut koalisi.

PKS sebagai partai incumben yang mengusung Gubernur Petahana Ahmad Heryawan seakan tidak punya energi dan nyali lagi untuk menggusung kadernya sendiri untuk bertarung dalam Pilgub Jabar 2018 nanti. Sebagai kekuatan utama yang berhasil memenangkan Pilkada Jabar beberapa tahun yang lalu, kiprah PKS sekarang ini seakan meredup dan tidak lagi menjadi kekuatan utama dalam kontestasi Pilgub Jabar 2018. Ada kesan PKS hanya digunakan sebagai alat untuk membangun kekuatan koalisi partai politik tertentu dalam pertarungan Pilpres 2019. Sehingga untuk Pilgub Jabar 2018 bukan merupakan prioritas utama.

Melihat peta kekuatan koalisi dalam mendukung Pilgub Jabar 2018 sebelum Munaslub Golkar diprediksikan akan diikuti oleh tiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yakni Ridwan Kamil dan UU Ruzanul Ulun yang akan diusung oleh Nasdem, PKB, PPP dan Golkar, sedangkan Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi akan diusung oleh PDIP dan PAN, dan terakhir pasangan Tatang Zaenudin dan Ahmad Syaiku yang akan diusung oleh Gerindra, PKS dan Demokrat. Pasangan ketiga Tatang Zaenudin walaupun namanya tidak begitu populer namun dimata Prabowo dan SBY dia adalah bekas anak buah kedua jenderal tersebut di Kopasus yang berhasil memenangkan suara Prabowo pada Pemilu 2014 ataupun SBY pada Pemilu 2009 di Provinsi Jawa Barat.

Pasangan ketiga ini akan menjadi kuda hitam dan terus dipromosikan agar elektabilitas dan popularitasnya cepat terangkat. Hal ini mengingat ketiga partai pengusung, apakah Demokrat, PKS dan Gerindra tidak kehilangan hegemoni mesin politiknya yang kuat di jawa barat. Khususnya bagi Gerindra yang sudah dapat dipastikan akan menggusung Prabowo Subianto dalam Pilpres 2019, akan memiliki kepentingan strategis di Pilgub Jabar karena Jawa Barat sudah terbukti berhasil mendulang suara 14 juta suara bagi Prabowo yang jauh diatas Jokowi yang hanya berhasil mendulang suara 9 juta.

Sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, Pilgub 2018 hanya sebagai sasaran antara bagi partai politik untuk membangun koalisi permanen menjelang pileg dan pilpres 2019. Gerindra dan PKS sudah hampir dipastikan sudah membangun poros baru untuk menggusung Prabowo. Demokrat menunggu koalisi dalam Pilgub Jabar 2018 dan jika berhasil memenangkan Pilkada Jabar 2018, demokrat akan cenderung bergabung dalam poros Gerindra dan PKS yang kemungkinan akan menduetkan pasangan Prabowo-AHY.

Inilah yang membuat pilkada Jawa Barat sangat menarik untuk disimak.Oleh sebab itu sebagai petahana hendaknya Jokowi dan partai penggusungnys harus dengan seksama melihat pilkada 2018 sebagai bagian untuk mengamati dan menentukan siapa kira-kira yang akan digandengkan Jokowi sebagai pendampingnya dalam pilpres 2019. Mudah-mudahan pilkada Jabar 2018 dapat berjalan lancar menuju Jabar yang maju dan sejahtera.

(cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF