BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel
Orasi Ja’far Shodiq: Emosi Tanpa Strategi

Dalam politik, khususnya politik internasional, interaksi antar manusia, bangsa, dan negara ditentukan oleh seberapa jauh mereka memiliki power—kemampuan seorang, kelompok, bangsa dan negara untuk mempengaruhi orang, kelompok, bangsa dan negara lain agar mereka mengikuti perintahnya.

Sekarang kita mau melihat apakah dari perspektif power Indonesia lebih besar power-nya dibandingkan dengan Amerika Serikat. Amerika disebut super power kerena mereka sudah memenuhi variabel power yang sudah dipersyaratkan menjadi negara Adikuasa. Mereka memiliki sumber daya alam dan manusia yang besar, ekonomi dan militer yang kuat, pemerintah yang bersih dan wibawa serta semangat nasionalisme yang tinggi.

Sedang Indonesia, sumber daya manusianya masih rendah dan tidak kompetitif dengan negara lain. Ekonominya belum stabil, militernya masih tergantung pada alutsista negara lain, pemerintahnya masih belum bersih, serta semangat nasionalismenya masih rendah. Sehingga wajar kalau para ahli mengklasifikasi Indonesia masuk negara dunia ketiga atau negara sedang berkembang.

Oleh sebab itu, Aksi 115 atau Aksi Bela Palestina yang pada awalnya menentang pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Israel dari Tel Aviv ke Jerussalem berubah menjadi tuntutan menggantikan presiden Jokowi adalah sikap emosi dan tidak strategis. Dalam orasinya, Wakil Ketua Umum DPP FPI Ja'far Shodiq menegaskan tahun 2019 saatnya Indonesia menganti presiden dan mengajak umat islam Indonesia untuk bertempur sampai mati melawan Amerika dan Israel dalam membela rakyat Palestina.

Bagaimana mungkin FPI sebagai civil society mengancam Amerika. Indonesia, Rusia maupun Cina sebagai negara  tidak mampu mendikte Amerika sebagai negara super power. Perlu disadari bahwa sekarang Amerika merupakan kekuatan Uni Polar yang tidak bisa ditandingi oleh kekuatan negara lain. Mereka memiliki persenjataan strategis antar benua (ICBM) yang daya jangkaunya antar benua. Dengan kekuatan militernya, Amerika memiliki pengaruh yang besar untuk mengontrol kekuatan di Eropa Barat, Jepang dan Korea, Australia dan New Zealand sebagai aliansi militernya.

Posisi Indonesia yang masih belum besar dan sedang terus berkembang untuk menjadi kekuatan besar sekarang ini  harus dipahami oleh semua elemen bangsa bahwa hubungan antar negara memerlukan kecerdasan pemerintah untuk merumuskan strategi dan manuver agar kepentingan nasional kita akan tercapai. Oleh sebab itu diplomat-diplomat kita yang ditugaskan di luar negeri untuk terus menerus melakukan negosiasi agar aspirasi masyarakat dalam negeri bisa diakomodasi.

Untuk mencapai kepentingan nasional kita seperti perjuangan kemerdekaan Palestina tidak bisa menggunakan dengan pendekatan hard power atau militer. Cara diplomasi dengan instrumen komunikasi dan negosiasi sebagai strategi soft power itulah cara terbaik yang harus dilakukan oleh pemerintah. Pemerintah tetap konsisten mendukung kemerdekaan Palestina dan memang sudah diamanatkan dalam UUD 1945 alinea empat dengan melakukan berbagai perundingan baik secara bilateral maupun multilateral.

Dalam pertemuan di Asean, OKI maupun PBB, Indonesia selalu menyuarakan dukungan Indonesia terhadap Palestina. Setuju terus-menerus menggaungkan solidaritas dukungan terhadap Palestina agar sewaktu-waktu muncul ada dukungan dan tekanan warga Amerika secara masif terhadap pemerintah Amerika untuk mengubah sikap dan dukungannya terhadap Israel.

Marilah kita bersatu padu membangun solidaritas kita sebagai suatu bangsa agar kedepan tujuan bangsa kita sebagaimana yang tertuang dalam Trisakti Sukarno yaitu berdaulat di bidang politik, mandiri di bidang ekonomi dan perkepribadian di bidang budaya dapat tercapai.

Musuh besar bangsa kita sekarang ini adalah kemiskinan, keterbelakangan dan ketidakadilan. Kita tidak boleh pesimis dan jika kita bersatu padu maka atas rahmat Allah SWT kita dapat mengatasi semuanya. Semangat nasionalisme dan petriotisme terus kita dengungkan agar NKRI dapat maju dan terus berkembang menjadi kekuatan politik dan ekonomi dunia sehingga kita disegani dan dihormati oleh negara lain. Bravo NKRI. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)